Tinggalkan komentar

Battle of France (10 Mei – 25 Juni 1940)

Oleh : Muhammad Irfan Sulistya

Image

(Tentara Nazi melewati Arc de Triomphe)

Operasi penyerangan terhadap Perancis merupakan operasi penyerangan dengan skala besar karena operasi ini juga bertujuan untuk menaklukkan negara-negara Eropa Barat, seperti Denmark, Belanda, Norwegia, Belgia, hingga kemudian Perancis.

Dalam Perang Dunia II, penyerangan Perancis adalah invasi Jerman terhadap Perancis yang terbilang sukses. Dimulai pada tanggal 10 Mei 1940 yang mengakhiri Phony War. Peperangan ini mengandung dua operasi utama. Yang pertama adalah Fall Gelb (case yellow), yaitu unit armor Jerman menyerang langsung dari Ardennes untuk memotong dan memerangkap unit sekutu yang telah bergerak masuk ke Belgia dan yang kedua adalah operasi Fall Rot (case Red )yang dilaksanakan pada tanggal 5 Juni 1940, tentara Jerman menyerang Maginot Lini dan masuk ke dalam Perancis.

Image

Setelah invasi terhadap Polandia pada September 1939, Hitler memiliki harapan besar bahwa Perancis dan Inggris akan menerima tata perpolitikan baru dan berdamai dengan Jerman. Ini adalah hal yang sangat penting mengingat persediaan bahan baku mentah untuk peperangan Jerman dalam keadaan menipis dan pada saat itu Jerman bergantung pada Soviet dalam hal pengiriman minyak.

Dalam keadaan serba ketidaknyamanan ini dan karena alasan ideologi, Hitler menawarkan perdamaian pada negara-negara barat pada tanggal 6 Oktober. Akan tetapi, Hitler pun merumuskan strategi militer baru jika ternyata permohonan perdamaiannya disambut negatif. Rumusan strategi militer itu menghasilkan The Fuhrer Directive Number 6 yang berisi perintah penyerangan terhadap Perancis dan negara-negara sekitarnya.

Inggris menolak penawaran perdamaian Hitler pada tanggal 10 Oktober 1939 dan Perancis melakukan hal yang sama pada 12 Oktober. Franz Halder, Kepala Staf Komando Tertinggi Angkatan Perang Jerman, memberikan rencana penyerangan pertama yang disebut Fall Gelb pada tanggal 19 Oktober 1939. Fall Gelb adalah nama inisial bagi rencana penyerangan terhadap Low Countries pada masa sebelum perang. Menurut rencana ini, puluhan divisi akan menyerang dalam garis-garis yang paralel, dengan sayap kanannya sebagai tulang punggung ofensif besar-besaran. Akan tetapi, Hitler merasa sangat kecewa dengan rencana Halder yang dianggapnya akan memakan waktu lama, banyak biaya, dan sulit untuk dilakukan. Jenderal Gerd von Rundstedt, Komandan Tentara Grup A, dan Letnan Jenderal Eric von Manstein juga tidak sepakat dengan rencana Halder tersebut.

Menurut Eric von Manstein, rencana ini memang ada baiknya, sederhana, tetapi buruknya, mirip sekali dengan yang pernah digunakan dalam Perang Dunia I dan terkenal sebagai rencana Schliefen karena rencana ini memang disusun oleh Jenderal Schliefen untuk mengawali perang tahun 1914. Manstein kembali berujar bahwa rencana tersebut tidak mengandung unsur-unsur yang baru dan sudah basi. “Agak memalukan bahwa angkatan sekarang tak dapat berbuat lain daripada mengulangi resep lama, sekalipun resep itu berasal dari seorang pandai seperti Schliefen.” Terang Manstein.

Image

(German Field Marshal Eric von Manstein)

Karena sudah pernah digunakan, rencana ini mungkin takkan menentukan dan muncul kekhawatiran kejadian serupa dalam PD I, yaitu perang statis, perang yang berlarut-larut.

saat pertama kali Manstein mengajukan rencana ini di depan OKH, Rencana Manstein ditolak mentah-mentah oleh para jenderal konservatif karena mereka menganggap bahwa rencana ini terlalu radikal untuk diterima. Pandangan Manstein ditolak secara datar oleh Halder dan von Brauchitsch.

Oleh karena itu, pada suatu hari di dalam bulan Oktober 1939 di Koblenz, Manstein meminta persetujuan dari atasannya, Rundstedt, untuk menolak rencana Halder. Pertemuan itu melahirkan kesimpulan bahwa rencana Halder tidak akan menghasilkan kemenangan atas Perancis. Manstein pun meminta nasihat Guderian sebagai ahli tank. Pertanyaannya adalah apakah kita dapat menerobos pertahanan musuh di wilayah pegunungan Ardennes menuju kota Sedan. Manstein memilih Ardennes karena musuh tak akan menduga suatu ofensif Jerman melalui wilayah pegunungan itu. Kebetulan Guderian dalam PD I pernah berperang di Ardennes. Jawabnya, “Mungkin, asal saja ada cukup banyak divisi panser dan divisi infantri yang bermotor.”

Image

(Guderian bertemu dua petugas di Perancis)

Setelah mendengar jawaban yang menggembirakan ini, Manstein menyusun sebuah memorandum yang intisarinya mengandung amandemen berikut terhadap Plan Halder dan OKH: tulang punggung ofensif di Eropa Barat seharusnya bukan sayap kanan, melainkan sayap kiri yang terdiri atas divisi tank dan kendaraan bermotor yang menerjang ke arah Sedan melalui Ardennes. Setelah disetujui oleh atasan Manstein, yaitu Rundstedt, rencana itu dikirm kepada OKH (OberKomando des Heeres). Akan tetapi, jenderal-jenderal lembaga ini tidak pernah meneruskannya kepada Hitler.

Pada permulaan bulan Januari 1940 terjadilah sesuatu yang menggemparkan. Terjadi peristiwa yang dikenal dengan sebutan Mechelen incident (Insiden Mechelen). Sebuah pesawat terbang Jerman, karena cuaca buruk, mendarat di wilayah Belgia yang waktu itu belum berperang, tetapi bersimpati kepada sekutu. Di dalam pesawat itu terdapat sebagian dari perintah operasi bagi Armada Udara Pertama yang tidak sempat dimusnahkan sehingga jatuh ke tangan Pemerintah Belgia dan kemudian dikumen itu diteruskan kepada Inggris-Perancis.

Dengan demikian, rahasia perang Jerman bocor!

Hitler murka, Goering lesu sebab dialah pemimpin Luftwaffe yang bertanggung jawab atas kecelakaan tersebut. “Kadang-kadang ketidakefisienan manusia melampaui segala batas kemungkinan,” kata Hitler kemudian kepada Musolini tentang kecelakaan itu.

Tersiarlah kabar bahwa Hitler karena itu terpaksa mengubah rencana yang semula untuk menyerang Eropa Barat. Akan tetapi, Manstein menyangkal bahwa kecelakaan pesawat terbang itu segera mengubah rencana Hitler yang sudah ada meskipun kebocoran itu menurut Manstein mungkin membuat Hitler lebih bersedia menerima usul-usulnya.

Hal ini terjadi pada tanggal 17 Februari 1940 ketika Hitler mengundang makan sejumlah komandan yang baru diangkat, termasuk Manstein di Reichskanzlei, Berlin. Sehabis makan, Hitler memanggil Manstein ke kamar kerjanya untuk memberi pandangannya tentang rencana menyerang Eropa Barat. Pada awalnya, Hitler manyatakan rasa antipatinya terhadap anak buahnya ini karena Manstein dianggap terlalu arogan, tetapi Hitler diam menyimak kala mendengar pendapat Manstein. Tak diketahui apakah Hitler sudah membaca memorandum yang disampaikan Manstein kepada OKH beberapa bulan berselang, tetapi Manstein terheran-heran tentang cepatnya Hitler dalam menangkap intisari Manstein itu, yaitu memusatkan tenaga pada sayap kiri yang terdiri atas panser dan pasukan bermotor yang akan menerjang melalui pegunungan Ardennes. Hitler yang selalu merasa tertarik pada sesuatu yang orisinal menerima baik rencana Manstein. Kini OKH pun menyetujuinya, tetapi hanya ada beberapa orang yang bersungguh-sungguh percaya dengan rencana ini, Hitler, Rundstedt, Guderian, dan Manstein sendiri.

Pada tanggal 9 April 1940, Hitler menyerbu Denmark yang menyerah tanpa bertempur, Kemudian Norwegia menyusul diserbu. Norwegia memberi perlawanan, dibantu oleh pasukan pendaratan Inggris, tetapi pada permulaan bulan Mei dipukul mundur. Rencana Manstein (Manstein Plan) akan dilaksanakan pada tanggal 10 Mei 1940, suatu tanggal yang bersejarah bagi Eropa Barat.

Yang akan diserang ialah Belanda, Belgia, lalu kemudian Perancis. Akan tetapi, sehari sebelumnya Admiral Wilhelm Canaris, kepala Abwehr (dinas intelijen Jerman), tetapi musuh Hitler menyuruh Oster, kepala stafnya, untuk memperingatkan atase militer Belanda di Berlin. Peringatan ini sampai kepada dinas rahasia Belanda yang kemudian menyampaikannya tanggal 9 Mei 1940 pukul 21.30 kepada Dr. Van Kleffens, Menteri Luar Negeri Belanda. Isinya adalah “Besok di waktu fajar, bersiaplah.”

Enam jam kemudian, di pagi buta bom-bom Jerman yang pertama dijatuhkan terhadap sasaran-sasaran di Belanda dan Belgia tanpa pernyataan perang. Belanda sengaja menimbulkan banjir di sebagian wilayahnya untuk menaham kemajuan tentara Jerman. Akan tetapi, Jerman melepaskan pasukan payung di belakang wilayah yang tergenang itu. Kota Rotterdan dibom sampai hancur oleh Luftwaffe. Negara yang telah menjajah Indonesia selama 350 tahun ini bertekuk lutut hanya dalam waktu empat hari. Keruntuhan Belgia menyusul dua minggu kemudian.

Image

(Kota Rotterdam yang telah hancur dibom Luftwaffe)

Sementara itu di Perancis, Pemimpinnya masih menduga bahwa Jerman akan segera menyerang dari arah utara menurut Rencana Schliefen. Pada saat itu jumlah pasukan sekutu jauh lebih kuat dari Jerman, yaitu 130 divisi melawan 100 divisi.

Dunia menaruh banyak harapan dan kepercayaan kepada tentara Perancis, tentara terbesar di Eropa dan tentara yang sudah menang dalam PD I. Jerman memang memiliki tank, tetapi Perancis pun punya, dan terlebih lagi Perancis memiliki Maginot Lini yang tidak bisa direbut.

Di sinilah mulai bekerja kecemerlangan Rencana Manstein. Dia sengaja menarik perhatian lawannya ke jurusan Belanda dan Belgia yang diserbu oleh Army Group B. Serangan ini dilakukan secara mencolok dan sangat spektakuler. Pasukan payung diterjunkan, 1000 pesawat Luftwaffe dipusatkan di sana, berikut tiga divisi panser. Serangan ini dibuat sangat berisik ‘noisy’

Dengan demikian, Perancis semakin mengira bahwa Army Group B lah yang merupakan tulang punggung serangan, sayap kanan yang terkenal dalam rencana Schliefen.

Image

Oleh karena itu, menyerbulah tentara Perancis-Inggris ke bagian utara Belgia untuk menghadapi sayap kanan yang kokoh itu. Semakin dalam tentara sekutu Perancis-Inggris masuk ke wilayah Belgia, semakin  senanglah hati para jenderal Jerman karena itulah yang Jerman kehendaki. Sesuai dengan apa yang telah dibahas di atas, tulang punggung serangan ini tidaklah terletak pada Group Army B di utara, tetapi pada Group Army A di selatan yang terdiri tidak kurang atas tujuh divisi tank.

Image

Secara tak terduga oleh Perancis, menyerbulah ratusan tank ini ke Ardennes di bawah pimpinan Guderian. Setelah menyebrangi Sungai Maas dekat Sedan, lalu tiba di tanah datar secara kilat Blitzkrieg dua ribu tank yang menggelinding cepat ke arah barat, di belakang tentara Perancis-Inggris yang sedang menyerbu ke Belgia Utara.  Akan tetapi, rencana penyerangan ini dalam beberapa hal telah diubah secara fundamental oleh Halder. Rencana Manstein yang telah diubah oleh Halder tidak lagi merupakan rencana yang mempertimbangkan serangan sekunder grup A yang secara simultan menerobos ke selatan. Sebagian besar elemen Blitzkrieg juga dihapuskan. Penyebrangan sungai secara dipaksakan harus dilakukan oleh infanteri. Divisi panser harus menunggu divisi infantri agar nanti dapat bersama-sama menyebrangi sungai tersebut. Dengan demikian, strategi penetrasi masuk ke dalam wilayah masuk tidak lagi milik divisi armor Jerman.

Pada kenyataannya, sebenarnya Guderian dan jenderal-jenderal panser, di antaranya Rommel, mudah untuk tidak patuh mengikuti perintah dan terus melanjutkan gerak serangnya masuk jauh ke dalam Calais dan Dunkirk secara cepat tanpa harus menunggu kedatangan infantri.

Walaupun demikian, hanya dalam beberapa hari, tibalah Guderian di Abeville, Boulogne, Calais, di pantai Samudra Atlantik. Dengan operasi kilat ini, putuslah perang sebab tentara Perancis-Inggris terpotong menjadi dua bagian. Kemenangan gilang gemilang ini adalah hasil dari pelaksanaan yang cemerlang dari dua prinsip peperangan: surprise dan konsentrasi kekuatan.

Ratusan ribu tentara Perancis-Inggris terkurung di Belgia dan terputus dari Paris. Tanggal 18 mei pagi, Churchill yang baru saja menjadi Perdana Menteri Inggris menggantikan Chamberlain dibangunkan oleh suara telepon dari Paris. Terdengar suara Paul Reynaud, PM Perancis yang dengan gugup menyatakan, “Kita telah kalah!”. Churchill tidak mengerti, ia menjawab bahwa hal demikian tidak mungkin cepat terjadi. Pertempuran baru berjalan lima hari. Akan tetapi, Reynaud meneruskan, “Front di Sedan telah bolong. Tank dan panser dalam jumlah besar-besaran mengalir seperti banjir.” Churchill segera menghibur rekannya, tetapi Reynaud tetap berkata, “Kita telah kalah, kita telah kalah!” Churchill akhirnya berjanji akan datang dengan pesawat terbang besoknya di Paris. Pukul 17.30 sore dia masuk ke dalam Gedung Kementerian Luar Negeri Perancis. Di tempat itu PM reynaud, Edouard Daladier, Menteri Pertahanan, dan Jenderal Maurice Gustave Gamelin, pucuk tertinggi pimpinan tentara Perancis menunggu.

 Image

(Dua tentara Jerman Melewati reruntuhan bangunan kota Paris)

Pimpinan Perancis kelihatan lesu dan tidak bersemangat. Gamelin menerangkan dengan peta di mana Jerman menerobos di Ardennes, ke Sedan, sepanjang front antara 50 sampai 60 mil. Divisi-divisi tank Jerman disusul oleh 8 sampai 10 divisi bermotor. Demikianlah Gamelin berrbicara selama lima menit tanpa berhenti. Ketika dia selesai, semua orang terdiam. Churchill mengajukan pertanyaan: di mana pasukan cadangan Tuan?

Jenderal Gamelin goyang kepala dan sambil mengangkat bahunya menyahut, “Aucune” ‘tidak ada’

Tidak ada pasukan cadangan untuk menutup lubang di Ardennes itu? Churchill saking terperanjatnya tidak mampu berkata apa-apa. Dia tidak bisa percaya, bagaimana seorang jenderal yang mempertahankan garis sedemikian panjangnya (500 mil) tidak menyediakan cadangan.

“Ini adalah salah satu surprise paling besar yang pernah saya alami,” tulis Churchill kemudian.

Karena tidak ditahan, dalam beberapa hari saja, tibalah pasukan panser Guderian di Abeville, Boulogne, dan Calais. Pada tanggal 23 Mei Guderian berada hanya beberapa mil dari pelabuhan Dunkirk tempat ratusan ribu serdadu Perancis-Inggris sudah berkumpul untuk mengungsi ke Inggris. Guderian bisa melihat Kota Dunkirk dengan pasti. Akan tetapi, pada saat itu Hitler campur tangan. Dia memerintahkan pasukan tank Guderian berhenti dan tidak boleh maju ke Dunkirk. Guderian tidak habis pikir, tetapi dia taat.

Sebenarnya, Rencana Manstein menimbulkan dampak yang sangat hebat juga menghancurkan tentara sekutu. Namun, efek ini hanyalah efek sesaat karena muncul keputusan Hitler tersebut pada tanggal  24 Mei 1940. Putusan Hitler ini adalah salah satu teka-teki PD II yang sampai kini belum terpecahkan. Akibat keputusan ini, Inggris mampu menggelar operasi Dynamo dan berhasil mengevakuasi tentaranya ke wilayah Inggris. Lebih dari 300 ribu tentara Perancis-Inggris berhasil meninggalkan Dunkirk dan selamat sampai di tanah Inggris.

 Image

(Operasi Dynamo; Evakuasi Tentara Inggris dari Dunkirk)

 

Pada tanggal 5 Juni 1940, ketika Kota Dunkirk sudah jatuh ke Tangan Jerman, setelah evakuasi tentara Inggris selesai, Hitler memerintahkan 10 divisi pansernya dengan 133 divisi infantri ke selatan, ke arah Paris. Perancis cemas. Divisi-divisi mereka yang dapat dikerahkan, selain lebih sedikit jumlahnya, juga tak begitu terlatih. Hampir semua divisi panser serta tentaranya yang lebih baik justru tak dapat digunakan karena terasing dan terpencil di Belgia utara setelah dipotong oleh serangan Guderian melalui pegunungan Ardennes.

Meskipun beberapa bagian Perancis memberi perlawanan baik, banjir panser Jerman tak dapat mereka tahan. Tanggal 10 Juni Pemerintah Perancis meninggalkan Paris. Empat hari kemudian jatuhlah ibukota itu tanpa pertempuran.Reynaud digantikan oleh Marsekal Petain sebagai perdana menteri dan pada tanggal 17 Juni ia meminta gencatan senjata. Empat hari kemudian gencatan senjata dilaksanakan di hutan Compiegne, persis di dalam gerbong kereta api yang pada tahun 1918 digunakan oleh Marsekal Foch sebagai wakil Perancis dan sekutu menerima kunjungan delegasi Jerman yang memohon gencatan senjata.

Hitler memasuki gerbong yang bersejarah itu, mengambil tempat kursi yang 22 tahun berselang diduduki Marsekal Foch dan menerima kunjungan delegasi Perancis yang tentu segera merasakan bahwa Hitler memilih tempat bersejarah ini untuk membalas dendam dan mempermalukan Perancis.

(Gerbong Kereta di Hutan Compiegne, tempat penandatangan gencatan senjata)

(Delegasi Perancis tiba di hutan Compiegne, dari kiri ke kanan vice-amiral d’escadre Maurice Athanase Le Luc, général d’aviation Jean-Marie Joseph Bergeret, duta besar Léon Noël (memakai pakaian sipil), Generalleutnant Kurt von Tippelskirch (Jerman), Charles Huntziger, dan seorang perwira Jerman yang tidak diketahui)

(Jenderal Charles Huntziger menandatangani dokumen penyerahan di gerbong perdamaian (Wagon de l’Armistice) di Compiègne, 21 Juni 1940. Penandatanganan dilakukan dua kali, tanggal 21 dan keesokan harinya (tanggal 22). Setelah perjanjian perdamaian ditandatangani, Huntziger menjadi Sekretaris Perang pemerintahan Vichy Prancis, dan kemudian sebagai panglima pasukan darat (September 1941))

Sekalipun Hitler melakukan blunder, operasi penyerangan Eropa Barat ini tetap terbilang sukses dan gaungnya menyebar ke seluruh daratan Eropa. Bahkan Jerman pun merasa takjub dan pada awalnya memang meragukan kemenangan ini. Sebagian besar dari kalangan Jenderal sama sekali tidak memiliki harapan atas suksesnya Rencana Manstein ini disebabkan adanya berbagai macam alasan, seperti posisi geostrategis Jerman yang tidak menguntungkan ataupun rencana yang terlalu berisiko.

Setelah kesuksesan ini, propaganda Nazi mulai mengklaim bahwa kemenangan ini merupakan hasil dari pemikiran kemiliteran Hitler yang jenius. Hitler memuji Manstein dengan kata-kata, “Kepada semua jenderal, kepada mereka saya menyatakan rencana baru saya untuk menyerang Eropa Barat, tetapi Manstein adalah satu-satunya orang yang mampu memahaminya.”

Image

Rencana manstein menciptakan kesimpulan dalam hal revolusi strategi militer pada pertengahan abad kedua puluh. Penggagas awal dikemukakan oleh Fuller dan Basil Liddel Hart. Rencana Manstein telah mempersembahkan teori baru kepada dunia tentang doktrin-doktrin militer Jerman selama abad kedua puluh dan Guderian adalah orang yang mampu mengaktualisasikan ide-ide Liddel Hart tersebut  ke dalam kenyataan: doktrin Blitzkrieg.

Sumber

Ojong, P.K. 2002. Perang Eropa Jilid 1. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Wikipedia

Sumber foto lokasi perundingan gencatan senjata di Compiegne

http://alifrafikkhan.blogspot.com/2011/10/album-foto-penandatanganan-menyerahnya.html

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

Ruang Penat

Sedikit berbagi cerita tentang bahasa Indonesia dan sekelumit tentang sastra

Rubrik Bahasa

Kumpulan artikel rubrik bahasa Indonesia dari berbagai media massa

Perjalanan Cinta

"Hamemayu Hayuning Bawono: Menata Keindahan Dunia"

pintarberbahasa.wordpress.com/

Cinta Bahasa Indonesia, Cinta Budaya Kita

Koiman

Menindas Sang Penindas

keshamotor

Just another WordPress.com site

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d blogger menyukai ini: