Tinggalkan komentar

Operasi Barbarossa (22 Juni – 5 Desember 1941)

Image

Image

Image

Pengantar

Latar Belakang Penyerangan terhadap Soviet

Teori Lebensraum

Mengapa harus menyerang Soviet? Mengapa tidak menyerang Eropa Barat saja? Mengapa harus membuka pertempuran dua front sekaligus?

Sudah sejak lama Hitler begitu membenci Yahudi, termasuk di dalamnya Uni Soviet. Hitler menganggap bahwa Uni Soviet yang didirikan oleh kaum Bolshevik komunis merupakan bagian dari Yahudi. Bolshevik pun dipengaruhi dan diatur oleh kelompok-kelompok Yahudi. Tidak hanya dari segi ideologi, penyerangan terhadap Soviet juga dipengaruhi oleh kondisi geopolitik. Wilayah Soviet yang luas juga memiliki posisi strategis yang dipenuhi oleh sumber daya alam yang dibutuhkan oleh Jerman. Kondisi inilah yang dibutuhkan untuk memenuhi syarat lebensraum, cara pandang politik Hitler mengenai konsep tata ruang untuk hidup.  Di dalam Mein Kampf, ia menjelaskan dengan detail kepercayaannya bahwa rakyat Jerman membutuhkan ruang hidup ‘lebensraum’ (tanah dan sumber dayanya) dan kedua hal ini bisa didapatkan di wilayah Eropa Timur. Terlebih lagi, bangsa-bangsa Eropa Timur yang sebagian besar adalah Slavia dianggap sebagai ras yang inferior. Kemudian, kependudukan terhadap wilayah-wilayah Eropa Timur juga akan memberikan surplus bahan pangan yang diperlukan rakyat dan tentara Jerman.

Konsep lebensraum sebenarnya telah muncul jauh sebelum Adolf Hitler dan nazi berkuasa. Konsep ini sudah terlihat sejak zaman pertengahan di wilayah Jerman dan dikenal dengan istilah ostsiedlung. Terminologi lebensraum sudah dipraktikkan oleh Friedrich Ratzel pada tahun 1901 dan telah digunakan sebagai slogan Jerman dalam menyatukan wilayah-wilayahnya. Ratzel percaya akan pengaruh kondisi geografi dalam membangun masyarakat. Oleh karena itu ekspansi dibutuhkan untuk memenuhi ruang geografi ini. Konsep ini kemudian berkembang melalui Karl Haushofer dan Jenderal Friedrich von Bernhardi. Di dalam buku Germany and the Next Year yang ditulis oleh von Bernhardi pada tahun 1912, ia mengembangkan hipotesis dari teori Ratzel tersebut dan kemudian menjelaskan bahwa wilayah Eropa Timur  merupakan sumber lahan baru. Masih menurutnya, perang bukan merupakan kebutuhan biologi, melainkan upaya untuk mencapai konsep lebensraum. Namun, penjelajahan untuk mencapai lebensraum tidak hanya bermakna memecahkan masalah kondisi demografi, tetapi juga untuk menjaga agar Jerman tidak mengalami stagnasi dan degenerasi.

Wir Brauchen Soviet (We Need Soviet Union)

Pada permulaan tahun 1925, di dalam buku Mein Kampf, Hitler menyarankan penyerangan terhadap Soviet. Seperti yang telah dikemukakan oleh Ratzel dan von Bernhardi, Hitler mengemukakan bahwa Jerman membutuhkan ruang dan sumber daya alam dan hal itu akan didapat dari wilayah timur. Takdir Jerman adalah kembali ke wilayah timur sama seperti pada masa 600 tahun yang lalu. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa jika dominasi Yahudi di Soviet dihancurkan, akan hancurlah pula negara tersebut. Hitler pun mengatakan bahwa peperangan terhadap ide pan-Slavia tidak dapat dihindari dan jika Jerman menang melawan Rusia, jalan kemenangan di seluruh medan pertempuran akan terbuka bagi Jerman. Wilayah Soviet yang kaya akan minyak dibutuhkan untuk menghidupkan perlatan-peralatan tempur Jerman, penduduk-penduduk Slavia akan djadikan tenaga-tenaga kerja, dan wilayah-wilayahnya yang luas akan diubah menjadi ladang-ladang pertanian dan perkebunan untuk meningkatkan kebutuhan Jerman akan sumber daya pangan. Inilah pentingnya wilayah Soviet di mata Jerman.

Pakta Perdamaian Jerman-Soviet 23 Agustus 1939 (Pakta Molotov-Ribbentrop)

Mengapa Soviet dan Jerman dapat membuat kesepakatan nonagresi padahal kedua belah pihak memiliki sifat-sifat yang saling bertentangan. Untuk melihat hal tersebut, kita harus melihat jauh ke belakang.

Pakta Molotov-Ribbentrop adalah pakta nonagresi yang dilakukan oleh pihak pemerintah Jerman dan Soviet pada tanggal 23 Agustus 1939. Pakta ini dinamakan sesuai  dengan kedua orang yang menandatangani perjanjian tersebut, yaitu Vyacheslav Molotov sebagai Menlu Soviet dan Joachim von Ribbentrop sebagai Menlu Jerman.

Pakta ini dibuat untuk menjami keamanan Soviet-Jerman untuk tidak saling menyerang. Bagi Jerman, pakta ini hanya digunakan sementara waktu untuk menjamin wilayah timurnya dari agresi Soviet sementara Jerman akan disibukkan menyerang wilayah-wilayah barat seperti Belanda, Belgia, Denmark, dan Perancis.

Beberapa dokumen mengatakan bahwa di dalam pakta kesepakatan ini terdapat beberapa protokol rahasia mengenai pembagian wilayah Rumania, Polandia, Lituania, Estonia, dan Finlandia kepada Soviet dan Jerman untuk mengantisipasi ancaman keamanan dari negara-negara tersebut. Pada saat penyerangan terhadap Polandia pada tanggal 1 September, kedua negara ini membagi-bagi wilayah Polandia masuk ke dalam jajahan mereka. Beberapa bagian timur Finlandia masuk ke dalam teritori Soviet.

Latar belakang munculnya pakta ini adalah adanya trauma kedua belah pihak terhadap peristiwa perang dunia pertama. Pada masa PD I, Bolshevik harus berjuang mempertahankan eksistensinya. Lenin dengan terpaksa harus mengakui kedaulatan negara-negara, seperti Finlandia, Estonia, Latvia, Lituania, dan Polandia. Sementara itu, dalam menghadapi Jerman yang kekuatan tempurnya semakin maju, Lenin dan Trotsky terpaksa harus mengakui perjanjian Brest-Litovsk yang membuat sebagian besar wilayah Soviet masuk ke dalam teritori Jerman.

Pada tanggal 16 April 1922, Jerman dan Soviet mengadakan perjanjian Rapallo untuk memberikan pernyataan resmi terkait masalah-masalah perbatasan dan keuangan dalam hal penyelesaian masalah dari perjanjian sebelumnya, yaitu Perjanjian Brest-Litovsk. Di dalam perjanjian baru ini, kedua negara sepakat untuk menormalisasi hubungan diplomasi mereka dan saling bekerja sama meningkatkan hubungan timbal balik yang baik. Kerja sama kemudian dilanjutkan berdasarkan kesepakatan yang terjadi di Berlin pada tahun 1926 untuk tidak saling menyerang dan meningkatkan hubungan kerja sama perdagangan selepas PD I.

Image

(Perjanjian Rapallo: dari kiri, Kanselir Jerman, Joseph Wirth bersama dengan Krassin, Georgi Chicherin dan Joffe dari delegasi Rusia)

Pada permulaan tahun 1930, kebangkitan Partai Nazi menimbulkan ketegangan antara Jerman, Soviet, dan negara-negara lain yang beretnis Slavia akibat untermensch, ideologi rasis Nazi, yang menyatakan bahwa etnis-etnis Slavia merupakan etnis kelas inferior di bawah Jerman. Terlebih lagi ideologi anti-Semit yang dipegang Nazi telah mengasosiasikan etnis Yahudi dengan paham komunis dan sistem keuangan kapitalis.

Berdasarkan hal tersebut, antara bulan April dan Juli 1939, Jerman dan Soviet secara resmi menyatakan akan membuka negosiasi-negosiasi politik yang baru walaupun pada kenyataannya tidak terjadi perjanjian apa pun di antara bulan-bulan tersebut. Pada dasarnya, perjanjian-perjanjian yang akan dilakukan terkait dengan negosiasi ekonomi antar kedua negara mengingat hubungan-hubungan militer dan diplomasi tidak berjalan lancar pada pertengahan tahun 1930.

Pada bulan Mei, Stalin mencopot jabatan Maxim Litvinov sebagai menteri luar negeri karena dianggap terlalu probarat dan berdarah Yahudi dan digantikan oleh Vyacheslav Molotov yang membuat Soviet menjadi lebih leluasa dalam bernegosiasi dengan pihak-pihak lain.

Pada akhir bulan Juli dan awal bulan Agustus 1939, kedua belah pihak, Jerman-Soviet, secara resmi sepakat untuk membahas rencana-rencana ekonomi secara detail dan secara lebih spesifik akan membahas potensi perjanjian-perjanjian politik mereka.

Pada awal bulan Agustus, Soviet dan Jerman bekerja bersama-sama dalam detail rencana terakhir mereka terkait masalah ekonomi dan mulai mendiskusikan persekutuan politik. Satu sama lain saling menjelaskan alasan kebijakan luar negeri mereka dan menemukan kesamaan bahwa keduanya  sama-sama antikapitalistik.

Namun, pada saat yang bersamaan, negosiator dari Inggris, Perancis, dan Soviet berada di Moskow pada bulan Agustus 1939. Pertemuan tripartit ini diadakan untuk membahas persoalan militer terkait dugaan serangan Jerman ke Polandia. Dalam pertemuan itu Rusia bersikukuh, jika Jerman menyerang Polandia, Rusia meminta agar pasukannya diizinkan masuk ke dalam teritori Polandia. Menteri Luar Negeri Polandia, Jozef Beck, menolak permintaan itu. Ia mengatakan kepada Inggris dan Perancis mengenai kekhawatirannya. Jika Rusia diiznkan memasuki wilayah Polandia, ia khawatir tentara merah akan selamanya menduduki Polandia. Penolakan ini diterima oleh Inggris dan Perancis dan meminta Rusia untuk tidak mencampuri urusan Polandia. Dengan demikian perizinan Rusia untuk memasuki Polandia ditolak. Sebaliknya Rusia beranggapan bahwa Jerman tidak akan menolak Rusia mengenai keinginannya tersebut. Hal ini terbukti. Pada tanggal 19 Agustus 1939, perjanjian telah disepakati antara Jerman dan Soviet dan pada hari yang sama Stalin juga menerima jaminan bahwa Jerman akan menyetujui protokol-protokol rahasia yang ditawarkan dalam perjanjian tersebut. Protokol rahasia tersebut menyatakan bahwa setengah dari wilayah Polandia, yaitu sebelah timur yang dibatasi Sungai Vistula, Latvia, Estonia, Finlandia, dan Besarabia harus masuk ke dalam wilayah Soviet. Jika protokol rahasia ini disepakati, Soviet akan siap menandatangani perjanjian. Jerman sepakat dan Ribbentrop  datang menemui Stalin pada tanggal 23 Agustus untuk ikut serta menandatangani perjanjian yang akan berlaku hingga sepuluh tahun ke depan.

Benarlah apa yang dikatakan Goebbels di dalam pidatonya pada permulaan tahun baru 1940.Rusia begitu gencar dan aktif melobi kedua belah pihak, baik kepada pihak axis maupun pihak sekutu. Keinginannya hanyalah satu: mendapatkan klaim kekuasan atas wilayah-wilayah barat balkan. Langkah pertama Rusia adalah melobi pihak sekutu untuk diiznkan memasuki Polandia jika sewaktu-waktu Jerman menyerang Polandia karena Jika Rusia diizinkan memasukinya, hal ini akan memperlancar tujuannya untuk mengklaim wilayah barat balkan. Polandia tampaknya sangat memahami niat terselubung ini dan menolak hal tersebut di hadapan Inggris dan Perancis sehingga membuat perjanjian tripartit batal. Mudah bagi Rusia. Jika langkah pertama untuk memasuki Polandia gagal, mengapa ia tidak berpaling ke Jerman dan memprovokasi Jerman untuk menyerang Polandia. Bagi Rusia hal ini akan tampak lebih mudah dan tepat sasaran mengingat kepentingan Jerman atas masalah Danzig di Polandia begitu besar. Hal-hal ini semakin memperjelas keadaan bahwa penyerangan Polandia pada tanggal 1 September 1939 tidaklah semata-semata urusan Jerman atau bagaimana jerman memulai PD II, tetapi juga terdapat niat Rusia dibalik itu semua.

(Pidato Goebbels dapat dibaca di sini)

Sesuai dengan apa yang diprediksi oleh banyak pihak, walaupun berlaku hingga sepuluh tahun ke depan, perjanjian ini takkan bertahan lama. Kedua belah pihak selalu menaruh curiga satu sama lain. Antara tahun 1940 – 1941, kedua belah pihak mulai berbenturan di Eropa Timur sehingga memunculkan konflik.

Pada pertengahan bulan Juni 1940, tentara NKVD menyerbu perbatasan Lituania, Estonia, dan Latvia. Sebanyak 34.250 penduduk Latvia, 75.000 penduduk Lituania, dan hampir dari 60.000 penduduk Estonia dideportasi atau dibunuh. Kejadian ini terus berlanjut hingga Rusia menganeksasi seluruh wilayah Lituania, termasuk area Scheschupe yang seharusnya berdasarkan perjanjian akan diserahkan kepada Jerman. Akhirnya, pada tanggal 26 Juni, empat hari setelah terjadi pernyataan gencatan senjata oleh Perancis terhadap Jerman, Rusia memberikan ultimatum meminta wilayah Besarabia dan termasuk wilayah utara Bukovina yang merupakan bagian dari Rumania. Hal ini sangat mengancam Jerman mengingat wilayah-wilayah tersebut begitu strategis, baik dari masalah geopolitik maupun ketergantungan Jerman akan minyak sebagian besar berasal dari wilayah tersebut.

Jerman harus bertindak. Ancaman harus dihentikan. Pada musim panas tahun 1940, Hitler secara rahasia mendiskusikan rencananya di depan para jenderalnya untuk menginvasi Rusia dan pada akhir tahun 1940-an telah memberikan perintah untuk menyusun rencana penyerangan.

 Image

(dari kiri: Menlu Rusia, Molotov, berjabat tangan dengan Menlu Jerman, Ribbentrop)

 Image

(Joseph Stalin dan Joachim von Ribbentrop)

 Image

(Molotov menandatangani perjanjian, tepat di belakangnya Joachim von Ribbentrop dan Stalin)

Image

(Sekarang Giliran Ribbentrop menandatangani perjanjian)

The Great Purge (1937 – 1938)

Simbol kepemimpinan Stalin: Paranoid dan Kejam

Selama kariernya sebagai pimpinan tertinggi Uni Soviet, Stalin selalu percaya bahwa ia memiliki banyak musuh di segala sudut kehidupannya. Ia tampak seperti paranoid dan seperti apa yang dikatakan oleh seorang sejarawan, Robert Service, Stalin memiliki psikopatalogic yang disebut sosiopatic personality disorder (gangguan kepribadian sosiopatik). Stalin menganggap bahwa plot dan konspirasi selalu mengancam kehidupan politiknya. Dia menganggap bahwa semua masalah-masalahnya berasal dari beberapa kelompok yang mencoba untuk menyakitinya dan ia begitu membenci, mendendam, dan membawa keluhan selama bertahun-tahun.

Sebagai seorang pengagum seumur hidup Ivan the terrible, Stalin mengadopsi kebijakan Ivan yang menghukum tidak hanya orang-orang yang dianggap musuh-musuhnya, tetapi juga keluarga besar musuh-musuhnya.

Pada masa mudanya, Stalin begitu terpengaruh oleh Vladimir Lenin dan Partai Bolshevik yang selalu mengategorikan beberapa orang sebagai anti-Soviet atau musuh masyarakat (enemies of the people). Pendiskreditan ini menimbulkan kondisi yang mengizinkan orang-orang untuk dibunuh atau dilenyapkan jika dianggap sebagai musuh. Bagi Bolshevik, kekejaman, teror, dan membunuh sepertinya merupakan metode yang sudah dianggap lazim. Bahkan, Stalin tanpa ragu dapat memusnahkan satu desa hanya untuk menciptakan ketakutan di benak masyarakat. Salah satu kunci keberhasilan kebrutalan Stalin adalah ia memiliki sebuah organisasi yang efisien dalam melaksanakan tugas yang diperintahkan: NKVD Narodnyy Komissariat Vnutrennikh Del ‘The People’s Commissariat for Internal Affairs ‘

Pada musim panas tahun 1932, Stalin menjadi begitu khawatir terhadap oposisi politiknya yang terus berkembang. Hal ini disebabkan oleh beberapa anggota partai yang secara terang-terangan mengkritisi segala kebijakan Stalin dan menyerukan memasukkan kembali nama Leon Trostky ke dalam partai. Saat isu ini didiskusikan di dalam Politbiro, Stalin memerintahkan bahwa para pengkritik harus ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Sergei Kirov yang pada saat itu setia terhadap Stalin justru menentang kebijakan tersebut. Ketika voting dilakukan, mayoritas suara Politbiro mendukung pernyataan Kirov dalam menentang Stalin.

Pada musim semi tahun 1934, Kirov mencoba mengadakan kebijakan rekonsiliasi. Ia berpendapat bahwa orang-orang yang ditahan karena menentang pemerintahan harus dibebaskan. Hal ini semakin membuat Stalin menjadi paranoid dan merasa dirinya tidak lagi diakui di dalam Politbiro. Merasa posisinya terancam akibat ulah Kirov, Stalin menjadi waspada. Dengan berbaik hati kepada Kirov karena Stalin sudah menganggap Kirov sebagai anaknya sendiri dan agar loyalitas Kirov tetap terjaga, Stalin meminta Kirov untuk meninggalkan Leningrad dan bekerja di Moskow. Hal ini dilakukan oleh Stalin agar Kirov lebih mudah diawasi. Namun, Kirov menolak dan pada tanggal 1 September 1934, Kirov dibunuh oleh seorang anggota muda partai yang bernama Leonid Nikolayev. Dalam peristiwa ini, Stalin memberikan pernyataan resmi bahwa Kirov adalah bagian dari konspirasi besar yang diatur oleh Leon Trotsky untuk melawan pemerintahan. Hal ini terus berlanjut pada penangkapan sejumlah aktivis yang mengkritisi kebijakan Stalin.

Pada bulan September 1936, Nikolai Yezof, kepala dinas NKVD memerintahkan penangkapan terhadap pemimpin-pemimpin politik yang dianggap bertentangan dengan pemerintah dan pada bulan Januari 1937, Karl Radek dan enam belas anggota ketua Partai Komunis dijatuhi hukuman karena dianggap bekerja sama dengan politik sayap kanan Trotsky untuk menggulingkan Pemerintahan Soviet.

Di Jerman, Hitler selalu mengawasi perkembangan situasi di Rusia. Apa yang dilakukan oleh Stalin sebenarnya jelas dapat memperlemah kekuatan stabilitas politik dan militer Rusia dan Stalin yang terlalu diancam oleh rasa takutnya yang berlebihan mengorbankan kedua hal tersebut. Oleh karena itu, Hitler ingin sekali membantu Stalin memenuhi obsesinya dalam melenyapkan musuh-musuh politiknya.  Kesempatan ini akan tiba sebentar lagi melalui tangan Reinhard Heydrich, Kepala Staf German Sicherheitsdienst(SD), sebuah departemen intelijen SS di bawah pemerintahan Nazi.

Pada tanggal 22 mei 1937, Jenderal Mikhail Tuchakevsky ditangkap dan diadili bersama dengan tujuh komandan Red Army yang lain atas tuduhan konspirasi militer dan kegiatan mata-mata untuk intelijen Nazi. Informasi ini didapatkan berdasarkan pernyataan yang dikeluarkan oleh beberapa orang yang ditangkap.

Sebelum tahun 1990, sebagian besar sejarawan menganggap bahwa Abwehr-lah yang menyebarkan desas-desus di sekililing Stalin dan membuat dokumen-dokumen palsu bahwa salah seorang jenderalnya, Mikhail Tuchakevsky, berkomplot dengan Trotsky dan menjadi mata-mata intelijen Nazi. Bagaimanapun, setelah arsip-arsip Soviet dapat dibuka untuk bahan penelitian, terungkap bahwa Stalinlah yang mengarang-ngarang cerita tersebut untuk dapat melenyapkan jenderal-jenderal yang dianggapnya menentang dengan cara yang dapat dibenarkan oleh semua pihak. Untuk menimbulkan kesan bahwa cerita tersebut adalah fakta, Stalin memerintahkan salah seorang agen NKVD yang bernama Nikolai Skoblin untuk datang menemui Heydrich untuk memintanya mengarang informasi tentang plot yang dilakukan oleh Tuchakevsky dan beberapa jenderal yang lain. Ketika melihat kesempatan untuk menyerang dua pihak sekaligus, yaitu pihak Soviet dan musuh abadi Hitler, Admiral Canaris, yang pada saat itu menjabat sebagai Kepala Abwehr,  Heydrich atas persetujuan Hitler langsung bertindak melakukan pembuktian atas informasi tersebut. Dokumen-dokumen palsu atas nama Abwehr kemudian dibuat atas pesanan Stalin. Beberapa dari dokumen-dokumen tersebut menyebutkan bahwa setelah Perjanjian Rappolo, banyak petinggi-petinggi Red Army telah menghubungi kantor Wermacht. Dokumen-dokumen ini diserahkan ke Soviet melalui Presiden Cekoslowakia, Benes, dan ke beberapa partai netral. Isi dokumen-dokumen ini juga menyebutkan adanya hubungan antara Jenderal Tuchakevsky dan pemimpin-pemimpin tertinggi Nazi. Akibatnya pada tanggal 22 Mei 1937, Tuchakevsky dijatuhi hukuman dan ditembak mati. Pengadilannya dibuat rahasia dan tidak diumumkan kepada publik. Bagaimanapun juga, penjatuhan hukuman mati Jenderal Tuchakevsky dan tujuh komandan Red Army lainya hanya merupakan bagian awal dari apa yang kita kenal dengan sebutan The Great Purge, atau dalam bahasa Rusia disebut Yezhovshchina atau rezim Yezhov. Setelah peristiwa ini, terjadi pembersihan besar-besaran oleh Stalin. Begitu banyak komandan dan perwira Red Army yang berkompeten dan berpengalaman dilenyapkan. Walaupun peranan Jerman dalam masalah ini begitu kecil, bagi Rusia hal ini berdampak sangat hebat, yaitu militer Rusia menjadi lemah. Hitler meneguk kenikmatan ini kala ia menjajal kemampuan Soviet dalam Operasi Barbarossa. The Great Purge adalah faktor utama mengapa Soviet tidak mampu menunjukkan kehebatannya pada masa-masa awal Operasi Barbarossa.

Image

(Salah satu episod The Great Purge)

Invasi Italia terhadap Yunani

Bukti Kebodohan dan Keegoisan Mussolini

Di musim panas 1940, saat Jerman krisis bahan baku dan potensi benturan dengan Uni Soviet atas wilayah di Balkan, invasi Uni Soviet tampak solusi satu-satunya. Meskipun tidak ada rencana lagi, pada bulan Juni, Hitler mengatakan kepada salah seorang jendral bahwa kemenangan di Eropa Barat akhirnya membebaskan diri untuk mendapatkan tugas baru yang penting: melawan Bolshevisme walaupun Hilter mengatakan bahwa pendudukan Rusia Barat akan menciptakan “lebih banyak pengeluaran daripada mendapat bantuan untuk situasi ekonomi Jerman.” Hitler mengantisipasi manfaat tambahan dari rencana ini, yaitu

  • Ketika Uni Soviet dikalahkan, kekurangan buruh dalam industri Jerman bisa dibantu oleh demobilisasi tentara.
  • Ukraina akan menjadi sumber pertanian.
  • Masyarakat Uni Soviet dapat dijadikan sumber pekerja dan dapat posisi geostrategis jerman dapat ditingkatkan.
  • Kekalahan Uni Soviet akan semakin mengisolasi Sekutu, terutama Inggris.
  • Perekonomian Jerman membutuhkan lebih banyak minyak dan pengendalian tambang minyak akan mudah tercapai; seperti perkataan Albert Speer, Menteri Jerman Produksi Peralatan Perang, dalam sebuah wawancara, “kebutuhan minyak jelas motif utama” dalam keputusan untuk menyerbu.

 Image

Weisung Nr. 21: Operasi Barbarossa

Pada tanggal 5 Desember, Hitler menerima rencana militer untuk invasi dan menyetujuinya dengan mulai dijadwalkan pada Mei 1941. Pada tanggal 18 Desember 1940, Hitler menandatangani Directive Perang Nomor 21 kepada Komando Tinggi Jerman untuk operasi dengan nama sandi “Operasi Barbarossa” yang menyatakan, “Wehrmacht Jerman harus siap untuk menghancurkan Rusia dalam kampanye yang cepat.” Operasi ini diberi nama sesuai dengan nama Kaisar Frederick Barbarossa dari Kekaisaran Romawi Suci, seorang pemimpin dari Perang Salib Ketiga pada abad ke-12. Invasi ini kemudian ditetapkan mulai tanggal 15 Mei 1941.

Banyak pengamat sejarah menyatakan bahwa keputusan Hitler ini gegabah dan terlalu overconfident karena tidak belajar dari sejarah kekalahan Napoleon dalam menyerang Rusia. Pernyataan Hitler bahwa peperangan ini hanya akan memakan waktu  delapan minggu pun dianggap omong besar. Kolonel Jenderal Guderian sebagai jago tank Jerman terkejut dan tercengang. Eropa Barat memang telah takluk, tetapi Inggris belum sempat dikalahkan. Jika operasi Barbarossa dijalalankan, Jerman akan membuka dua front peperangan sekaligus, suatu hal yang sangat riskan dan diketahui oleh semua kalangan bahkan bagi orang awam sekalipun. Marsekal Gerard von Rundstedt yang pernah berperang di Rusia dalam PD I mengatakan dengan pesimis bahwa akhir dari semua ini pastilah bukan happy ending.

Sebenarnya, dalam hal ini jika kita lihat dari kondisi yang ada, Hitler tidaklah bermulut besar. Ia sadar akan rencananya. Prediksinya bahwa Inggris tidak akan menyerang ternyata benar karena Inggris belum mampu melancarkan serangan hingga satu atau dua tahun ke depan. Artinya, wilayah Eropa barat sebenarnya telah aman. Mengenai lama pelaksanaan operasi, Hitler pun tak asal berbicara. Sesungguhnya waktu delapan minggu cukup untuk menggulung Soviet atau setidaknya mampu diselesaikan sebelum musim dingin pada bulan November tiba. Namun, takdir berkata lain. Sekutu Hitler, Signor Mussolini, tanpa berkoordinasi dengan Hitler, telah membuka medan perang baru, yaitu invasi Italia ke Yunani.  Celakanya, Mussolini dipermalukan dalam pertempuran di Yunani ini. Dengan berang dan murka, Hitler harus membantu Mussolini, bukan sebagai kawan tetapi memang kepentingan Jerman terhadap Yunani untuk mengamankan sumber minyaknya di Ploesti, Rumania, sehingga rencana penyerangan ke Rusia pun tertunda.

Pada tanggal 28 Oktober 1940, Italia bersama dengan sekutunya, Albania, menyerang Yunani dengan 500 ribu pasukan. Penyerangan in dilakukan Mussolini sebagai upaya untuk menstabilkan kekuatan antara dia dengan Hitler, suatu hal yang sebenarnya tidak penting untuk dilakukan dalam kebijakan strategi poros axis. Namun, Mussolini memiliki pandangan yang berbeda. Mussolini menganggap dirinya adalah senior di antara tokoh-tokoh fasis. Ia pun sudah terkenal dalam dunia politik jauh sebelum Hitler. Jika beberapa orang sejarawan menganggap Stalin memiliki gangguan kepribadian sosipatik yang membuatnya selalu paranoid, Mussolini memiliki sikap self lack confidence, adanya rasa rendah diri sehingga senantiasa berdaya upaya untuk menunjukkan dirinya lebih superior dibandingkan yang lain. Ketika Hitler muncul dalam waktu singkat menaungi Mussolini, kenyataan ini menggoyangkan pribadi Mussolini yang labil. Ia sering berkata kepada Hitler bahwa ia mempunyai pengalaman dalam bidang politik selama 40 tahun. Ketika Hitler mendulang sukses pada tahun 40-an dengan menyerahnya Perancis hanya dalam waktu beberapa minggu, muncul perasaan pahit dalam diri Mussolini. Apalagi Mussolini tak mempunyai bagian dalam mencapai kemenangan itu. Mussolini iri dan ingin mendapatkan hal yang sama. Itulah sebabnya ia menyerang Yunani dan ia ingin Hitler membaca dari surat kabar bahwa sekutunya telah menduduki tanah Yunani.

Rencana ini sebenarnya ditolak mentah-mentah oleh Staf angkatan perang Italia. Marsekal Badoglio menyatakan bahwa serangan ini membutuhkan 20 divisi, sedangkan di Albania yang digunakan sebagai pangkalan hanya memiliki sembilan divisi Italia.

Sebelum penyerangan, Mussolini melalui Duta Besarnya di Athena, Emmanuele Grazi, memberikan ultimatum kepada Perdana Menteri Yunani, Ioannis Metaxas, agar memberi akses bagi Italia terhadap wilayah penting Yunani. Metaxas menolak ultimatum tersebut dan memutuskan untuk berperang melawan Italia.

Angkatan perang Yunani pada saat itu hanya berjumlah tiga divisi, sedikit tank dan minim angkatan udara. Walaupun demikian, Yunani ternyata dapat memberikan perlawanan yang luar biasa sengit dan membuat Mussolini ketar-ketir. Keberuntungan Yunani terletak pada kondisi geografisnya yang berbentuk pegunungan sehingga membuat divisi lapis baja Mussolini sulit melakukan manuver dan hanya menjadi sitting duck bagi tentara Yunani. Dengan cepat, pasukan Italia dipukul mundur. Pada tanggal 8 November, sebelas hari setelah Mussolini melaksanakan agresinya, ofensif Italia hancur berantakan.

Pasukan Yunani, setelah mendapatkan bala bantuan Angkatan Udara Inggris, tak menunggu dan membiarkan Mussolini menyusun tenaganya kembali. Pada tanggal 14 November 1941, Yunani menyerang di seluruh Front dan berhasil memukul mundur tentara Italia keluar dari perbatasan bahkan sampai membebaskan pula dua kota penting di Albania dari penjajahan Italia.

Apa yang dilakukan Mussolini tanpa berkoordinasi sebelumnya dengan Hitler merupakan blundernya yang paling fatal dalam sejarah Perang Dunia II. Blunder ini berakibat pada beberapa hal berikut.

  1. Sebelum bertempur dengan Italia, Yunani, walaupun termasuk negara netral memiliki perjanjian strategis dengan Jerman. Ketika Mussolini membuka pertempuran dengan Yunani, batallah perjanjian tersebut.
  2. Inggris memiliki alasan untuk terlibat di sana dan dapat menjadikan Yunani sebagai pangkalan udara untuk mengebom sumber minyak Jerman di Ploesti, Rumania.
  3. Akibat ulah Mussolini, Hitler harus turun tangan. Rencana penyerangan ke Rusia pun tertunda dan hal inilah yang akan berakibat fatal pada operasi-operasi Jerman di Eropa Timur.
  4. Penundaaan rencana Operasi Barbarossa mengakibatkan Jerman harus membuka dua front pertempuran sekaligus dan divisi-divisi tempur yang seharusnya dapat digunakan di Rusia harus dibagi-bagi ke dalam beberapa front pertempuran yang berbeda.

Operasi Barbarossa

Rencana yang semula akan dilaksanakan pada tanggal 15 Mei 1941 kini harus diundur dan dilaksanakan pada tanggal 22 Juni 1941 akibat blunder Mussolini yang sebelumnya telah kita bahas.

Hitler begitu pandai menyimpan rahasia sehingga Stalin, walaupun tahu bahwa suatu saat Jerman akan menyerang, tidak tahu pasti kapan tanggal pelaksanaan penyerangan tersebut. Sebenarnya jika Stalin mau berlaku bijaksana dan mendengarkan saran bawahannya, ia akan tahu kapan Hitler akan menyerang karena pada tanggal 14 Juni, seorang agen rahasia Rusia, Dr. Richard Sorge, telah memberikan peringatan dari Tokyo. Isi peringatan itu berbunyi, “ Perang akan dimulai tanggal 22 Juni. Sungguh ini adalah suatu informasi yang luar biasa bagi kepentingan Rusia. Namun, Stalin lebih memilih untuk mengabaikan peringatan ini karena ia telah meyakinkan kepada semua pihak bahwa perang tidak akan mungkin terjadi sampai tahun 1942. Lebih lanjut Stalin berkata, “Semua isu perang ini hanyalah propaganda yang sangat lucu yang dikirimkan oleh musuh-musuh Soviet.” Pernyataan ini kemudian menyurutkan ketegangan yang terjadi di dalam setiap lini depan pasukan Rusia dan membuat mereka tidak waspada.

Nyatanya,

Operasi Barbarossa dimulai pada pukul 03.30 pagi dan dilakukan dengan menyerang tiga arah yang berbeda. Terobosan ini dilakukan oleh tiga grup tentara, masing-masing Utara, Tengah dan Selatan. Grup Utara pimpinan Generalfeldmarschall Wilhelm Ritter von Leeb menyerbu dari Prusia Timur dengan sasaran Leningrad (St. Petersburg). Grup Tengah di bawah komando Generalfeldmarschall Fedor von Bock dari Polandia melalui hamparan rawa-rawa luas Pripyat menuju Smolensk untuk kemudian ke Moskow, sedangkan grup Selatan yang dipimpin oleh Generalfeldmarschall Gerd von Rundstedt bergerak ke arah Kiev dengan tujuan menguasai wilayah gudang pangan (gandum) di Ukraina serta sumber minyak bumi di Kaukasus. Kekuatan Tentara Jerman pada saat itu terdiri atas Angkatan darat yang memiliki pasukan antara 8 – 10 juta personel tergabung dalam 250 divisi, 30.000 tank dan 16.000 pesawat terbang.

Serangan dilakukan sepanjang perbatasan yang ratusan mil lebarnya dengan strategi kolone yang paralel, persis seperti yang telah dilaksanakan di Perancis, Mei 1940. Strategi seperti ini adalah stratgi yang paling baik karena didasarkan atas alasan luasnya medan dan memungkinkan penyerang melakukan tindakan memotong dan mengepung musuh atau yang kita kenal dengan sebutan pincer movement.

Inilah tujuan Hitler, yaitu mengurung dan mengepung musuh. Sebelum tentara Rusia yang menjaga perbatasannya sempat mengundurkan diri, mereka sudah harus dikurung dan dihancurkan.

Babak pertama Operasi Barbarossa berjalan lancar. Pemimpin-pemimpin Rusia telah mencatat peningkatan deploy pasukan Jerman sepanjang perbatasan barat, tetapi belum dapat memastikan hari H invasi. Informasi telah dikumpulkan komandan-komandan Rusia, seperti Timoshenko dan Zhukov yang kemudian memberikan perintah siaga pada tanggal 21 Juni, itu pun hanya sebagian unit. Pada hari pertama, angkatan udara Rusia telah kehilangan 1200 pesawat tempurnya. Komandan Angkatan Laut, Admiral Kuznetzov, berlari dari kantor staf jenderal menuju mabes untuk memberi sinyal siaga penuh ke seluruh angkatan laut. Namun, komunikasi di pihak Rusia lemah. Radio sangat sedikit sehingga komunikasi bergantung pada telegraf dan jaringan telepon yang sudah dirusak atau dihancurkan oleh Jerman. Reaksi berjalan lambat. Sebagian besar unit-unit terdepan tidak menerima perintah sama sekali, sisanya menerima perintah yang sudah kadaluarsa.

Sementara itu, Grup Tengah Jerman yang terdiri atas dua kelompok Panzer (ke-2 dan ke-3) bergulir ke timur dari kedua sisi Brest-Litovsk dan bertemu dengan pasukan ke-2, ke-4, dan ke-9 di depan Minsk dan melakukan gerakan menjepit.  Minsk jatuh. Gerakan pincer movement yang dilakukan berhasil menawan lebih dari ratusan ribu tentara Rusia. Dalam pincer movement itu turut bergerak divisi-divisi berlapis baja yang dipimpin oleh Jenderal Guderian dan Jenderal Hoth. Akan tetapi, pada saat-saat pertama itu pula tampak jelas bahwa meskipun mereka sudah dikepung, sikap pasukan Rusia berbeda sekali bila dibandingkan dengan pasukan Inggris-Perancis pada saat di Dunkirk. Tentara Rusia terus bertahan dan bertempur. Mengapa hal yang demikian berbeda bisa terjadi? Kita tak dapat langsung menyimpulkan bahwa tentara Inggris-Perancis memiliki mental yang lebih lemah dibandingkan dengan tentara Rusia yang bermental baja karena hal ini tak harus selalu terkait dengan kualitas mental setiap prajurit.

Sun Tzu, penulis Art of War, telah menjelaskan mengapa dua kondisi pengepungan tersebut berbeda. Menurut Sun Tzu, ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh penyerang ketika melakukan pengepungan. Yang pertama adalah pengepungan harus dilakukan secepat kilat seperti angin. Yang kedua adalah pengepungan tidak boleh dilakukan secara merapat, dalam artian berikan satu ruang kosong bagi musuh untuk dapat melarikan diri. Hal ini akan memberikan harapan kepada musuh untuk selamat sehingga mereka lebih senang memikirkan bagaimana caranya untuk pergi meloloskan diri dibandingkan harus berjuang sampai mati. Inilah yang terjadi. Dalam peristiwa Dunkirk, kondisi medan pertempuran memberikan ruang kosong semacam itu: wilayah barat Perancis, Dunkirk, adalah salah satu wilayah pantai yang menghubungkan Perancis dengan Inggris melalui Selat Channel. Harapan inilah yang membuat tentara Inggris-Perancis lebih memilih mengundurkan diri daripada harus melawan balik, sedangkan situasi yang sangat berbeda terjadi di Rusia. Jerman melakukan pengepungan tanpa memberikan ruang untuk meloloskan diri. Sekalipun memang terdapat ruang untuk meloloskan diri dari pengepungan, tentara Rusia tidak diizinkan oleh Stalin untuk mundur. Jika terdapat satu tentara yang mundur, ia akan langsung dianggap desertir dan akan ditembak mati oleh anggota-anggota NKVD. Jadi, tidak ada satu ruang pun bagi tentara Rusia untuk mengundurkan diri dari medan pertempuran sehingga hanya akan ada dua pilihan bagi mereka: Bertempur atau mati. Menyerah pun bukan pilihan karena mereka sadar bahwa menyerah kepada Jerman hanya akan menawarkan diri mereka secara sukarela ke kamp-kamp konsentrasi atau mengikhlaskan diri untuk dieksekusi mati.

Kembali ke medan pertempuran, tentara Jerman telah mencapai Sungai Berezina, ini artinya mereka sudah sejauh 650 km dari garis awal. Pada tanggal 11 Juli Guderian telah menyeberangi Sungai Dnieper dan Jenderal Hoth melintasi sungai Dvina. Target berikutnya adalah Smolensk untuk membuka pintu masuk ke Ibu Kota Rusia, Moskow.

Awal Operasi Barbarossa yang gilang-gemilang menimbulkan rasa optimis di benak Hitler. Smolensk sudah berhasil direbut pada tanggal 16 Juli. Dengan direbutnya Smolensk dan majunya Grup Tengah dan Utara ke arah Sungai Luga, kedua grup tersebut telah mencapai tujuan besar pertama mereka: menyeberang dan mempertahankan jembatan darat antara Dvina dan Dnieper. Jalur ke Moskow yang kini tinggal 400 km jauhnya telah terbuka lebar. Para Jenderal Jerman, seperti Halder, Guderian, dan von Kluge hendak bersiap menyerbu terus ke Moskow, tetapi ternyata Hitler menghendaki arah lain: Ukraina. Hitler memerintahkan Grup Utara dan Tengah untuk membantu kemajuan tentara Grup Selatan yang mengalami hambatan menguasai Ukraina. Hanya satu koridor menuju Kiev yang berhasil diamankan pada pertengahan Juli.

Ukraina Harus Ditaklukkan

Blunder Hitler setelah Dunkirk

Bagi Hitler, Ukraina merupakan gudang gandum Rusia yang subur yang jika direbut dapat membantu tenaga perang Jerman. Dengan demikian, Hitler memandang Ukraina melalui pertimbangan ekonomi bukan militer. Ini adalah blunder Hitler yang sama seperti yang terjadi di Dunkirk. Menurut jenderal-jenderal yang lain, Ukraina harus dikesampingkan. Leningrad dan Moskowlah yg harus terlebih dahulu diserang, apalagi Moskow adalah daerah pusat indusri Rusia dan jalan ke sana sudah terbuka lebar. Segala kekuatan seharusnya dipusatkan pada Grup Tentara Utara pimpinan Leeb dan Grup Tentara Tengah pimpinan Bock dan Leningrad beserta Moskow akan bisa segera dikuasai untuk memastikan kemenangan operasi ini. Perbedaan pandangan ini menimbulkan debat yang berlarut-larut padahal serangan bisa segera dilaksanakan ke arah Leningrad dan Moskow setelah Smolensk jatuh pada tanggal 16 juli. Namun, perdebatan yang memakan waktu beberapa minggu sampai permulaan Agustus telah menghilangkan waktu yang sangat berharga. Akhirnya, Moskow ditinggalkan dan semua kekuatan dipusatkan untuk merebut Kiev di Ukraina. Sejarah Dunkirk terulang dengan konsekuensi yang lebih fatal.

Operasi Typhoon

Pada tanggal 25 Agustus 1941, Guderian memberi perintah atas nama Hitler untuk menyerang Kiev. Waktu sudah bergulir delapan minggu, tetapi Rusia belum bertekuk lutut. Jeda waktu setelah Smolensk jatuh hingga penyerangan dilakukan lagi dengan target operasi yang berbeda membuat operasi ini tidak dapat diselesaikan sebelum musim dingin, sedangkan peralatan musim dingin bagi tentara Jerman tidak dipersiapkan, perbandingannya hanya ada satu pakaian musim dingin untuk lima tentara.

Di Ukraina, jalan-jalan sangat buruk. kondisinya penuh pasir pada waktu musim panas. Hal ini menyebabkan banyak kendaraan bermotor menjadi macet, terlebih ketika hujan mulai turun. Jalanan menjadi rawa-rawa dan kendaraan bermotor Jerman pun terpaku. kemajuan lambat: unsur blitzkrieg pun tamat.

Ketika hujan kemudian semakin deras, keadaan jalan semakin kacau. Hanya kendaraan beroda rantai yang masih dapat bergerak susah payah untuk menarik truk dari lumpur Rusia yg dikenal dengan sebutan rasputitza. Guderian mengeluhkan keadaan menyengsarakan ini.

Meskipun demikian, berkat divisi tank dan keuletan tentara Jerman, mereka akhirnya dapat merebut Kiev yang jatuh pada akhir September. Sekitar 665 ribu tentara Rusia terkepung dan tertawan di Kiev. Sungguh suatu kemenangan taktis.

Pada bulan September telah diputuskan kini giliran Moskow untuk direbut. Dilaksanakanlah Operasi Thypoon. Operasi serangan ini dimulai tanggal 2 Oktober dan pecahlah pertempuran hebat di Vyasma, di tengah jalan antara Smolensk dan Moskow. Sebelas hari kemudian tak kurang dari 650 ribu tentara Rusia tertawan bersama dengan 5.000 meriam dan 1.200 tank. Kemenangan masih tetap.dapat diraih oleh Jerman. Banyaknya tentara Rusia yang tertawan membuat Hitler semakin optimis dan merasa bahwa tentara Rusia sudah tidak berdaya sehingga ia sudah menyiapkan pasukan khusus untuk menghancurkan Kremlin.

Akan tetapi, segera semangat dan suasana di kalangan pimpinan dan tentara Jerman berubah seketika. Mereka heran dan kecewa bahwa pada akhir Oktober dan permulaan November, orang Rusia yang telah menelan begitu banyak kekalahan masih terus melanjutkan perlawanan. Pertahanan mereka semakin gigih dan sengit. Pimpinan tentara Rusia yang bertugas melindungi Moskow diganti oleh Marsekal Georgi Zhukov. Hutan-hutan disekitar Moskow pun dipenuhi ranjau dan rintangan kawat berduri. Sarang meriam dan senapan mesin disembunyikan secara pandai. Tentara baru dibentuk dan simbol masyarakat negara Rusia, kaum buruh, dikerahkan. Keterlambatan penyerangan akibat masalah Ukraina membuat Rusia mampu mengirimkan bala bantuan dari sebelah timur: tentara Siberia setelah Dr. Richard Sorge, seorang spionase Rusia, berhasil meyakinkan Stalin bahwa Jepang tidak akan menyerang Rusia dari timur. Kondisi-kondisi ini telah membalikkan keadaan pertempuran. Pasukan Jerman yang telah letih harus berhadapan dengan tentara Rusia yang masih segar, belum lagi ancaman musim dingin yang akan segera datang pada permulaan November 1941. Seolah-olah keadaan ini belum cukup menyengsarakan, muncul tank Rusia jenis baru: T-34 di medan pertempuran Vyasma. Tank ini lebih superior dan meriam antitank yang digunakan oleh infanteri Jerman tidak sanggup menjinakkan monster baja ini, hanya tank sekelas panther atau tiger I yang mampu menjinakkannya. Hitler kembali salah menduga karena sebelumnya jumlah divisi tank Rusia hanya sedikit dan kemenangan-kemenangan yg begitu cepat dalam menguasai wilayah-wilayah barat Rusia semakin membenarkan pandangannya, padahal jauh dari wilayah barat, di dalam pegunungan Ural, Rusia masih terus memproduksi tank. Teror tank telah dimulai di medan pertempuran Rusia.

Pada tanggal 26 Oktober, Marsekal vob Kluge memindahkan markasnya lebih dekat ke Moskow, yaitu dekat Naloyaroslavets. Dari jauh tampak Kota Moskow yang dikelilingi oleh sistem pertahanan yang dalan (in depth). Untuk menghadapinya, Jerman membutuhkan artileri dan kendaraat beratnya, tetapi itu semua telah tertahan rasputitza jauh di belakang.

Dalam bulan November diadakan rapat khusus membahas pilihan: tunda serangan sampai musim semi 1942 atau lanjutkan ofensif sampai musim dingin. Keputusannya adalah lanjutkan ofensif.

Pertengahan November masa rasputitza berakhir. Air mulai membeku. Serangan tank Jerman mula-mula berhasil. Jarak Moskow tinggal 40 mil. Akan tetapi mendadak tanggal 20 November “General Winter” menyerang dengan hebat. suhu merosot hingga minus 30 derajat. Salju mulai turun dan setibanya di terusan Moskova-Volga, tentara Jerman ditahan oleh pasukan Rusia yang masih segar. Tanggal 3 Desember Rusia mulai menyerang dengan tank dibantu oleh kaum buruh yang telah dikerahkan untuk mempertahankan kota.

Dimulainya operasi Typhoon akibat perubahan strategis, taktik, dan kampanye yang dilakukan Hitler telah menggagalkan rencana awal. Dengan demikian, Operasi Barbarossa telah berakhir. Operasi Typhoon masih terus berlangsung dan akan diikuti oleh pertempuran besar pada bulan Juni hingga September 1942 yang dikenal dengan sebutan Battle of Moscow.

 

Sumber

Hitler, Adolf. 2007. Mein Kampf. Jakarta: PT Buku Kita.

Ojong, P.K. 2009. Perang Eropa Jilid I. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Toland, John. 1977. Adolf Hitler. New York: Ballantine Books.

www.spartacus.schoolnet.co.uk/RUSpurge.htm

http://en.wikipedia.org/wiki/Treaty_of_Non-Aggression_between_Germany_and_the_Soviet_Union

id.m.wikipedia.org/wiki/Front_Timur_(Perang_Dunia_II)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

Ruang Penat

Sedikit berbagi cerita tentang bahasa Indonesia dan sekelumit tentang sastra

Rubrik Bahasa

Kumpulan artikel rubrik bahasa Indonesia dari berbagai media massa

Perjalanan Cinta

"Hamemayu Hayuning Bawono: Menata Keindahan Dunia"

pintarberbahasa.wordpress.com/

Cinta Bahasa Indonesia, Cinta Budaya Kita

Koiman

Menindas Sang Penindas

keshamotor

Just another WordPress.com site

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d blogger menyukai ini: