Tinggalkan komentar

Orang Indonesia di Kamp Konsentrasi Nazi: Otobiografi Parlindoengan Loebis

sampul depan buku

… Aku dimasukkan ke sebuah sel yang telah dihuni oleh tiga orang. Besar ruangan itu tiga kali tiga meter dan mempunyai dua tempat tidur besi tanpa kasur…. Dalam ruangan itu ada sebuah lubang di mana kami dapat buang air kecil dan besar. Lubang itu ditutup dengan sebilah kayu saja. Siapa yang tidur dekat lubang itu akan mencium bau yang amat busuk….

Penggalan kalimat di atas diungkapkan oleh Parlindoengan Lubis saat hari pertamanya di dalam kamp konsentrasi Nazi. Inilah awal dari babak mengerikan dalam hidupnya ketika ia diciduk dua polisi rahasia Belanda di rumah sekaligus tempat praktiknya sebagai dokter di Amsterdam, pada suatu siang, akhir Juni 1941 setelah Belanda bertekuk lutut kepada Jerman.

Parlindoengan Loebis (1910-1994) adalah seorang tokoh nasionalis Indonesia. Parlindoengan lahir di Batang Toru, Tapanuli Selatan, 30 Juni 1910 dan meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 31 Desember 1994. Loebis berangkat ke Negeri Belanda setelah lulus Kandidat I di Betawi (begitu dia menuliskannya). Semasa di Betawi, ia sempat aktif di Jong Islamieten Bond dan Jong Batak, yang kemudian bersama perhimpunan mahasiswa lain (selain Jong Java) bersatu membentuk PPPI dan Indonesia Moeda. Di Belanda, ia kuliah di Universitas Leiden mengambil ilmu kedokteran pada tahun 1930-an. Selama di sana ia aktif sebagai ketua PI selama periode 1936 – 1940 dan dianggap sebagai pelopor PI karena merupakan angkatan II setelah Hatta, Sutan Syahrir, Santono, Iwa Koesoemasumantri, Ali Sastroamidjojo, dan Sukiman. Bersama dengan PI, ia berjuang mencita-citakan kemerdekaan Indonesia.

Sepeninggal Hatta, PI mengalami pergeseran orientasi politik dan dianggap berhaluan kiri. Di bawah tangan Parlindoengan, organisasi ini mengalami sedikit pergeseran dari komunis menjadi sosialis terlihat dari caranya menghentikan kerja sama dengan partai komunis Belanda dan memulai hubungan dengan partai sosialis (SDAP). Sekalipun berhaluan sosialis, Parlindoengan tetap dianggap sebagai antifasis. Inilah mungkin yang menyebabkan ia diceduk oleh Gestapo. Bagi Nazi, orang-orang seperti Parlindoengan akan dianggap sebagai pemberontak dan harus diamankan.

Parlindoengan menjadi tahanan nazi selama empat tahun, namun tidak menetap di satu kamp konsentrai. Beberapa kali ia dipindahkan. Menurut pengakuannya, ia telah dipindahkan sebanyak empat kali: Kamp Schoorl dan Amersfoort di Belanda, serta Buchenwald dan Sachsenhausen di Jerman.

Di dalam kamp konsentrasi pertama, Kamp Schoorl, ia belum disuruh bekerja dan hanya melakukan apel pagi dan olahraga. Ketika seluruh isi kamp digabung dengan Kamp Amersfoort, ia diperintahkan untuk mengerjakan konstruksi, termasuk memasang kawat berduri. Ia pun mulai disiksa secara kejam oleh petugas di sana. Pernyataannya untuk dapat bertahan di sini sungguh menarik. Ia menulis,

“.. Untuk dapat survive dalam kamp, aku pertama-tama harus mempunyai hati yang keras dan tanpa rasa, seperti batu. Segala perasaan yang sentimental dan cengeng harus dibuang jauh-jauh…. Masa lampau sekali-kali jangan dikenang. Masa yang akan datang jangan diharapkan. Hiduplah untuk hari ini saja.”

Parlindungan lalu dipindahkan ke Kamp Amersfoort, Belanda lalu ke Kamp Buchenwald, Jerman bersama 100 tawanan lain menggunakan kereta api kelas tiga. Di sini ia bersama tawanan lainnya sebanyak 1. 400 mendapatkan tugas untuk membuka hutan di suatu pegunungan berkabut, memecah batu, membuat barak, saluran air, listrik, bengkel, dan lain-lain, selama 7 hari seminggu, 14 jam sehari. Tawanan sering dipukuli, bahkan hingga mati. Tawanan yang ketahuan mengobrol akan ditembak tanpa ampun.

“Setelah dipindahkan ke Buchenwald, aku memperkirakan bahwa tidak mempunyai harapan lagi untuk dibebaskan, kecuali Jerman dikalahkan Sekutu dalam perang. Namun, menurut perkiraanku itu tidak akan terjadi dalam waktu yang singkat…. Aku harus siap untuk ditawan beberapa tahun. Itu pun kalau aku tidak terbunuh….”

Perasaan ini ia lukiskan pada awal April 1942 kala tiba di Kamp Buchenwald. Kegelisahan Parlindoengan yang dituangkan dalam otobiografinya itu memang tak mengada-ada. Setidaknya, hampir setiap pekan puluhan tawanan mati akibat sakit dan kelaparan di kamp konsentrasi Buchenwald. Sejak menampung tawanan pada 1937 hingga 1945, lebih dari 56 ribu korban menemui ajal di kamp konsentrasi yang terletak di pinggiran Kota Wiemar itu.

Dengan pekerjaan yang telah disebutkan di atas, para tawanan hanya mendapat jatah makanan sangat minim. “Pagi-pagi dapat roti kurang-lebih 400 gram, bubur dan kopi pakai gula kurang-lebih 400 cc. Kopi yang diberikan itu sebenarnya bukan kopi, melainkan dibuat dari sejenis padi,” tulis Parlindoengan. Ia kembali menambahkan, “”Makanan itu kalau dibandingkan dengan pekerjaan yang dilakukan dan cuaca yang dingin sangatlah tidak mencukupi.” Yang lebih mengenaskan, bila para tawanan dipaksa untuk bekerja jauh di luar kamp. Para tawanan dilarang melewati garis yang telah ditentukan. Bila melanggar, akan ditembak pasukan SS yang mengawasi mereka. Parlindoengan menyimak, “banyak juga tawanan yang memanfaatkan itu untuk bunuh diri. Mereka dengan sengaja melewati garis itu supaya ditembak mati dari belakang.”

Pada 1944, sebagian kamp Buchenwald hancur ketika pasukan Sekutu membombardir dari udara. Kini sebagian besar bangunan kamp konsentrasi itu telah rata tanah. Yang masih tersisa beberapa bangunan sebagai ruang koleksi peninggalan. Di bangunan krematorium, yang terletak sejajar dengan barak tawanan, terdapat enam tungku pembakaran mayat. Di salah satu sudut ruangan terdapat kamar penyimpan abu jenazah, dan sebuah ruang bawah tanah, dulu berfungsi untuk menumpuk mayat.

Akan tetapi, Parlindoengan tidak ada di sini saat peristiwa tersebut terjadi karena ia telah dipindahkan lagi, pada Oktober 1942, ke Sachsenhausen, ke instalasi pabrik pesawat perang Heinkel. Di sini situasi lebih baik. Kamp lebih difokuskan pada pekerjaan teknis, biarpun kekejaman masih berlangsung dan menyita nyawa manusia segala bangsa di sana. Kali ini, Loebis ditugaskan sebagai dokter kamp, sehingga tugasnya lebih ringan.

Saat akhirnya pasukan sekutu berhasil masuk ke Jerman, Kamp kacau. Para tawanan dan penjaga membentuk barisan tak teratur yang terus bergerak ke barat. Tawanan yang keluar barisan langsung ditembak di belakang kepala. Tapi banyak juga penjaga yang juga lari memisahkan diri. Mereka akhirnya berhenti di  Grabouw. Sempat barisan dari kamp lain bergabung. Akhirnya, tentara Rusia masuk juga ke sana. Parlindoengan resmi lepas dari tawanan, tetapi perlu waktu untuk memulihkan diri dan mencari cara untuk lepas dari kawasan Rusia, menyeberangi sungai Elbe, masuk ke kawasan Sekutu Barat, dan akhirnya kembali ke Belanda dengan kereta ke Maastricht, lalu naik mobil ke keluarganya di Amsterdam.

Di Tanah Air, Parlindoengan juga berpindah-pindah tempat. Sepanjang 1947-1950, ia menetap di Yogya dan berkerja sebagai Kepala Dinas Kesehatan Pabrik-pabrik Persenjataan Departemen Pertahanan. Setelah itu, ia bekerja sebagai dokter perusahaan Borneo Sumatra Handel Maatschapj di Jakarta-sembari sorenya buka praktek di rumah dinasnya di kawasan Kebayoran Baru. Pada 1959, Parlindoengan hijrah ke Tanjungpandan, Bangka-Belitung. Ia bekerja sebagai dokter di PT  Ia meninggal di ujung tahun 1994 (tepatnya tanggal 31 Desember), nyaris tanpa perhatian dari bangsa kita.

Ada fakta unik menarik yang ditemukan dalam otobiografi ini. Sebagai saksi sejarah bekas tawanan empat kamp konsentrasi, di dalam bukunya setebal 292 halaman itu, Parlindoengan tidak menyebutkan sama sekali mengenai adanya kamar gas yang sering digembar-gemborkan oleh pihak Yahudi dan barat.

Parlindoengan Loebis (1910-1994)

Parlindoengan Loebis (tampak paling depan memegang ban penyelamat) berfoto bersama para penumpang dari berbagai bangsa di dek kapal Trier yang sedang berada di Laut Tengah dalam perjalanannya ke Eropa (1932). Setelah 15 tahun, barulah Loebis bisa kembali pulang ke tanah air!

(Pengurus PI (Perhimpoenan Indonesia) tahun 1938 dalam acara perayaan hari jadi organisasi tersebut yang ke-30. Parlindoengan Loebis diapit oleh Sidartawan dan Mohammad Ilderem. Sama seperti Loebis, Sidartawan juga dijebloskan oleh Nazi ke kamp konsentrasi. Tapi nasibnya tidak seberuntung Loebis, ia tewas di kamp tersebut dan sampai sekarang jenazahnya tidak diketahui dikuburkan di mana.)

Parlindoengan Loebis di tengah berjas putih bersama rombongan orang Indonesia yang pulang dari negeri Belanda ketika merayakan Tahun Baru 1947 di atas kapal Weltevreden yang mereka tumpangi dan telah berada di sekitar Kepulauan Seribu

Parlindoengan Loebis di depan rumah dinasnya sebagai Kepala Dinas Kesehatan Pabrik-Pabrik Persenjataan Departemen Pertahanan Republik Indonesia di Yogyakarta (1948)

Foto terakhir Parlindoengan Loebis sebelum ia meninggal dunia. Di sampingnya adalah putri tercintanya Damiyati Inca

Sehari setelah tahun baru 1995, di koran KOMPAS dipasang sebuah iklan pemberitahuan kematian dari Parlindoengan Loebis

Sumber:

http://id.wikipedia.org/wiki/Parlindoengan_Loebis

http://alifrafikkhan.blogspot.com/2009/08/parlindoengan-loebis-1910-1994-orang.html

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2006/09/18/IQR/mbm.20060918.IQR121709.id.html

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2006/09/18/IQR/mbm.20060918.IQR121707.id.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

Ruang Penat

Sedikit berbagi cerita tentang bahasa Indonesia dan sekelumit tentang sastra

Rubrik Bahasa

Kumpulan artikel rubrik bahasa Indonesia dari berbagai media massa

Perjalanan Cinta

"Hamemayu Hayuning Bawono: Menata Keindahan Dunia"

pintarberbahasa.wordpress.com/

Cinta Bahasa Indonesia, Cinta Budaya Kita

Koiman

Menindas Sang Penindas

keshamotor

Just another WordPress.com site

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d blogger menyukai ini: