Tinggalkan komentar

Madagascar Plan; Proposal Perdamaian yang Gagal

Lokasi Madagaskar

Franz Rademacher

Oleh: Muhammad Irfan Sulistya

Solution of The Jewish Question adalah suatu materi yang selalu menjadi perbincangan kala kita mengamati sejarah PD II, khususnya ketika kita mengkaji pemerintahan Nazi. Solusi final inilah yang selalu menjadi alasan terjadinya genosida terhadap banyaknya warga Yahudi di Eropa.

Sesungguhnya, sejak awal, genosida atau holocaust bukanlah keinginan Hitler dan pemerintahannya. Telah dijelaskan oleh banyak sejarawan bahwa Hitler hanya ingin mengenyahkan Yahudi dari tanah Eropa. Kata mengenyahkan sering disalahartikan oleh sebagian besar kalangan sebagai upaya pembunuhan sistematis terhadap warga Yahudi. Hal ini tidaklah tepat karena begitu banyak upaya yang telah dilakukan Nazi Jerman untuk “mengenyahkan” yahudi dari Eropa, yaitu dengan beberapa program pendeportasian besar-besaran warga yahudi, salah satunya adalah Madagascar Plan.

Madagascar Plan adalah rencana pendeportasian warga Yahudi Eropa ke Madagaskar, pulau yang merupakan bagian dari koloni Perancis di tenggara Afrika. Yang diajukan pada musim panas tahun 1940  sebagai sebuah solusi dari masalah-masalah mengenai Yahudi ‘For the final solution of the Jewish Question’.

Ide untuk mengirimkan Yahudi Eropa ke Madagaskar bukan ide baru yang diciptakan oleh pemerintahan Nazi. Tidak hanya Jerman, sebelum Nazi berkuasa, beberapa negara Eropa, seperti Perancis dan Polandia,  sepakat bahwa Yahudi hanya akan menjadi penyakit di Eropa sehingga mereka menginginkan Yahudi untuk pindah dan pergi dari wilayahnya. Jauh pada tahun 1885, seorang sarjana orientalis anti-Semit, Paul de Lagarde, kemungkinan adalah penggagas ide ini untuk yang pertama kali. Ide ini terus berkembang hingga tahun 1920 oleh Henry Hamilton Beamish.  Inggris, Belanda, dan Polandia yang anti-Semit telah menyarankan rencana yang sama sejak Perang Dunia I. Pada tahun 1937, pemerintah Polandia mengirimkan tiga anggota komisinya pergi ke Madagaskar untuk mencari kemungkinan penempatan Yahudi di sana. Dari pengiriman komisi ini didapatkan hasil bahwa satu dari tiga orang komisi mengatakan bahwa ada kemungkinan 30 ribu warga Yahudi Eropa dapat ditempatkan di pulau ini, sedangkan dua yang lain memiliki pendapat yang berbeda, yaitu hanya dua ribu orang yang dapat ditempatkan di pulau ini. Walaupun demikian, Polandia tetap membahas permasalahan ini dan meminta Perancis untuk bekerja sama sebagai negara yang bertanggung jawab atas koloni di Madagaskar tersebut.

Persiapan Rencana

Pada permulaan tahun 1938, Adolf Eichmann telah diminta untuk mempersiapkan laporan mengenai Madagaskar. Hjalmar Schact, Presiden Reichbank, membawa permasalahan ini ke London untuk didiskusikan. Ia meminta kucuran dana agar program ini dapat terealisasikan. Pada tahun 1940, ide ini telah sampai pada eselon tingkat tinggi pemerintahan Nazi. Heinrich Himmler pun telah menyatakan pendapatnya bahwa masalah-masalah Yahudi ini akan segera dapat terselesaikan melalui kemungkinan pendeportasian seluruh Yahudi ke Afrika atau ke koloni yang lain.

Pada musim semi tahun 1940, muncul kepastian bahwa Nisko dan Lublin Plan, sebuah rencana untuk mendeportasi Yahudi dari wilayah Polandia yang dianeksasi, tidak akan berjalan lancar. Nazi Jerman pun akan berencana menyerang Eropa Barat yang berpotensial menambah jumlah warga Yahudi sebanyak ratusan ribu lagi di bawah kendali Jerman. Pada bulan Juni 1940, Perancis jatuh dan wilayah Madagaskar berada pada kendali Jerman. Halangan yang muncul dari Perancis kini telah sirna. Madagascar Plan menjadi lebih mungkin untuk dapat dilaksanakan. Hitler menyetujui rencana ini dan memulai upaya pendeportasian seluruh warga Yahudi Eropa ke koloni di Afrika. Sesuai dengan perintah Hilter, Madagascar Plan mulai dilaksanakan setidaknya satu perahu setiap hari yang didalamnya terdapat tiga ribu Yahudi yang siap untuk diberangkatkan. Franz Rademacher ditunjuk untuk menginisiasi, bekerja sama dengan Adolf Eichmann, dan mengorganisasi jalannya program.

Pada tanggal 3 Juli 1940, Rademacher mengeluarkan pernyataan resminya yang ia sebut dengan “Perjanjian Damai untuk Mengatasi Permasalahan Yahudi”. Di dalamnya, ia mengatakan bahwa kemenangan yang telah diraih oleh Jerman di wilayah Eropa semakin memungkinkan dijalankannya rencana ini dan atas dasar ini pula Jerman memiliki kewajiban untuk menyelesaikan permasalahan Yahudi. Lebih lanjut  Rademacher menyatakan bahwa  solusi yang diinginkan untuk menyelesaikan masalah ini adalah dengan mengusir warga yahudi keluar dari Eropa. Tugas ini akan dilaksanakan oleh Kementerian Luar Negeri Jerman dengan cara (1) menggunakan perjanjian damai untuk bernegosiasi dengan negara-negara Eropa, (2) menjamin keamanan wilayah yang dibutuhkan untuk penempatan warga Yahudi dan untuk menentukan prinsip-prinsip kerja sama dengan negara-negara musuh dalam masalah ini, (3) memastikan bahwa wilayah kependudukan yahudi yang baru berada di bawah hukum internasional.

Berdasarkan hal di atas, Kementerian Luar Negeri Jerman akan bekerja sama dengan badan penelitian di Jerman untuk melakukan survei mendapatkan data-data faktual jumlah warga Yahudi di beberapa negara dan menggunakan aset-aset keuangan Yahudi melalui bank internasional. Perancis diminta ikut bekerja sama untuk memastikan Madagaskar siap dijadikan hunian baru warga Yahudi dengan memberikan kompensasi 25 ribu warga Perancis agar tetap dapat tinggal di wilayah tersebut. Mandat Perancis terhadap Madagaskar akan dialihkan ke pemerintah Jerman. Teluk Diego Suarez dan Pelabuhan Antsirane akan menjadi basis Angkatan Laut Jerman. Beberapa wilayah dari Madagaskar akan dipakai sebagai basis angkatan udara. Daerah-daerah yang tidak memiliki kepentingan militer akan dijadikan wilayah hunian di bawah administrasi Gubernur Jerman yang tunduk langsung kepada Reichfuhrer SS. Walaupun demikian, Yahudi dibebaskan untuk membentuk pemerintahannya sendiri. Mereka berhak memilih pemimpin, membentuk departemen kepolisian, kantor pos, dan membangun jalan di bawah administrasi yang telah mereka tentukan.

Segala kebutuhan keuangan akan dipenuhi oleh bank-bank Eropa berdasarkan jumlah nilai aset kekayaan yang sebelumnya pernah mereka miliki saat tinggal di Eropa. Walaupun Madagaskar berada di bawah mandat Jerman, orang-orang Yahudi di Madagaskar tidak akan lagi diakui sebagai warga Jerman. Kewarganegaraan Jerman mereka akan hilang, begitu pula dengan kewarganegaraan negara Eropa lain. Mereka akan menjadi penduduk Madagaskar dan mulai berlaku pada tanggal mereka dideportasi. Hal ini dilakukan untuk mencegah adanya kemungkinan pembentukan negara baru Yahudi di Palestina dan mencegah mereka untuk mengeksploitasi simbol-simbol penting milik umat Kristen dan umat Islam di Jerusalem demi kepentingan Yahudi sendiri. Untuk alasan inilah, Jeman tetap bertanggung jawab mengontrol Yahudi untuk menjamin bahwa mereka akan terus bertingkah laku baik di masa depan, termasuk bagi kaum-kaum mereka yang tinggal di Amerika. ( Paragraf-paragraf di atas adalah penerjemahan tanpa pengubahan yang diambil dari pernyataan resmi yang dikeluarkan Franz Rademacher tertanggal 3 Juli 1940)

Sayangnya, Kondisi-kondisi yang terjadi pada tahun-tahun ke depan ternyata semakin menyulitkan jalannya rencana ini. Jerman kalah dalam upaya blitzkriegnya menyerang Inggris dalam Battle of Britain. Terlebih lagi pada tahun 1941, Jerman telah membuka medan pertempuran baru: Invasi ke Rusia. Tidak ada satu pun negara di Eropa yang mau mendukung program Madagascar Plan. Inggris dan Perancis tetap bersikukuh mengajak Jerman berperang, ditambah lagi Amerika Serikat ikut campur dalam peperangan, seakan-akan ada suatu konspirasi untuk menggagalkan apa yang telah direncanakan oleh Jerman. Inilah yang menyebabkan program menjadi tersendat dan bahkan mengalami kegagalan kemudian dilupakan.

Kita dapat melihat betapa pentingnya rencana ini, bukan hanya untuk Jerman, melainkan untuk seluruh negara-negara di dunia. Hasil kegagalan rencana ini sudah dapat kita lihat pada masa sekarang. Kekhawatiran-kekhawatiran Nazi Jerman terhadap permasalahan yahudi mulai bermunculan ke permukaan. Yahudi telah membentuk negara Israel dan mengancam kedaulatan wilayah Palestina. Simbol-simbol penting umat Islam dan Kristen dieksploitasi sedemikian rupa. Peperangan, pembunuhan, dan kekejaman Yahudi tidak pernah surut di sana dan kini penduduk dunia hanya dapat terdiam dan hanya dapat mengatakan bahwa Hitler dan rezimnya adalah “setan”.

Sumber:

http://en.wikipedia.org/wiki/Madagascar_Plan

http://en.wikipedia.org/wiki/Franz_Rademacher

http://www.jewishvirtuallibrary.org/jsource/Holocaust/Madagascar.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

Ruang Penat

Sedikit berbagi cerita tentang bahasa Indonesia dan sekelumit tentang sastra

Rubrik Bahasa

Kumpulan artikel rubrik bahasa Indonesia dari berbagai media massa

Perjalanan Cinta

"Hamemayu Hayuning Bawono: Menata Keindahan Dunia"

pintarberbahasa.wordpress.com/

Cinta Bahasa Indonesia, Cinta Budaya Kita

Koiman

Menindas Sang Penindas

keshamotor

Just another WordPress.com site

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d blogger menyukai ini: