Tinggalkan komentar

Ghetto; Sebuah Definisi

Oleh: Muhammad Irfan Sulistya

Peta Persebaran Ghetto di Eropa

Ghetto; Sebuah Definisi

 

Oleh: Muhammad Irfan Sulistya

Kata ghetto kemungkinan berasal dari bahasa Italia gheto atau ghet yang bermakna ‘kerak hasil peleburan besi atau batu bara’ atau ‘tempat pembuangan limbah di Venesia’ dan sering direferensikan sebagai tempat pengecoran di mana hasil peleburan tadi di simpan di sebuah perkampungan Yahudi Venesia yang didirikan pada tahun 1516. Berdasarkan sejarahnya, Kaisar Austria, Charles V, pernah memerintahkan pembentukan perkampungan-perkampungan Yahudi di di Frankfurt, Roma, Praha, dan kota-kota lainnya yang disebut dengan borghetto.

Dari hal-hal di atas, kata ghetto kini dimaknai sebagai suatu wilayah yang di dalamnya hidup kelompok-kelompok Yahudi. Orang Yahudi menyebutnya sebagai Yiddish yang berarti ‘permukiman Yahudi’. Untuk menjalani kehidupan sosialnya, ghetto memiliki sistem pemerintahannya sendiri yang tunduk di bawah hukum pemerintahan negara induknya.

Pada abad ke-15 dan ke-16, saat berlangsungnya renaissance di Eropa, orang-orang yahudi adalah kaum minoritas yang dianggap asing. Kepercayaan mereka yang tidak sesuai dengan budaya-budaya Kristen membuat mereka dikucilkan. Akibatnya, banyak pemerintah Eropa yang mencoba mengumpulkan orang-orang Yahudi dalam satu wilayah yang di dalamnya diberlakukan hukum-hukum yang sangat ketat. Kondisi-kondisi yang terdapat di dalam setiap ghetto berbeda. Dalam satu kasus, ada ghetto yang di dalamnya hidup suatu populasi yang makmur, tetapi dalam kasus lain, ada juga yang di dalamnya hidup populasi yang serba kekurangan. Hal yang hampir selalu sama di semua ghetto adalah adanya tembok-tembok besar yang mengelilingi tempat tersebut dengan tujuan untuk melindungi komunitas Yahudi dari ancaman luar.

Oleh karena itu, sebuah ghetto tidak serta merta dapat dikatakan sebagai sebuah tempat penyiksaan, pun di dalamnya mereka, orang-orang Yahudi, diberi kebebasan untuk membentuk pemerintahan dan badan hukum sendiri.

Istilah ghetto kemudian digunakan juga oleh masyarakat untuk menyebut tempat yang digunakan oleh pemerintahan Nazi untuk mengontrol populasi Yahudi di Eropa. Pemerintahan nazi sendiri menamakan ini dengan konzentrationzlager.  Antara tahun 1939 – 1944, ghetto digunakan oleh Nazi tidak hanya untuk mengonsentrasikan komunitas Yahudi, tetapi juga untuk para tawanan politik, gipsi, ras Slavia, dan homoseksual. Menurut sejarawan-sejarawan barat, ghetto dalam masa kependudukan Nazi dibagi menjadi tiga jenis: (1) Kamp konsentrasi (concentration camp), (2) Kamp pekerja (labour camp), dan (3) Kamp pemusnahan/pembantaian (extermination/ death camp). Masing-masing memiliki tugas dan fungsinya sendiri.

Ada begitu banyak ghetto yang tersebar di negara-negara benua Eropa, mulai dari Belanda, Perancis, Jerman, Cekoslowakia, Austria, Slowakia, Polandia, Latvia, Belarusia, dan Ukraina. Sejarah-sejarah yang bersumber dari sarjana-sarjana dan peneliti barat menyebutkan bahwa Nazi sempat membangun sekitar 15 ribu ghetto, jumlah ini sudah termasuk dengan sub-subkamp. Sebagian besar telah hancur dan sebagian lainnya masih dapat dilihat hingga kini.

 

Daftar Ghetto

Berikut adalah tabel yang menunjukkan beberapa ghetto di Eropa.

Catatan:

*Data korban yang tertulis di kamp Auschwitz sesuai dengan yang didapatkan dari wikipedia dengan total tahanan setiap kali tampung adalah 135 ribu jiwa, sedangkan menurut data yang dikeluarkan Palang Merah Internasional tanggal 17 Januari 1945, di kamp Auschwitz pada tanggal tersebut tersisa 67 ribu warga Yahudi yang masih hidup. Dalam lima tahun masa operasi (1940 – 1945), Auschwitz telah memakan korban sebanyak 1 juta jiwa. Ini artinya 200 ribu jiwa harus dibunuh dalam setiap tahunnya. Sungguh suatu pembunuhan sistematis yang telaten?

Perhitungan data korban tidak pernah mencapai suatu titik kesimpulan yang pasti. Perbedaan jumlah selalu muncul bahkan di antara para penggiat teori holocaust. Jumlah yang disebutkan lebih besar pada awalnya dan selalu menurun. Alangkah menarik jika kita cermati data korban yang terbunuh di Auschwitz mengingat kamp ini adalah kamp terbesar yang pernah dimiliki Nazi.

Berikut ini adalah pemaparan data-data korban di Auschwitz menurut berbagai sumber.

9.000.000

Berdasarkan dokumentasi Pemerintah Perancis yang berjudul “Night and Fog.” Dokumen ini telah dijadikan sumber bahan ajar siswa sekolah di seluruh dunia.

 

8.000.000

Berdasarkan dokumen No. 31 Kantor Penelitian Kriminal Perang, Perancis (The French War Crime research Office)  tahun 1945.

 

7.000.000

Data ini muncul di sumber yang sama pada poin kedua.

 

6.000.000

Dikutip dari buku yang ditulis oleh seorang dokter di Auschwitz, Miklos Nyiszli. Buku ini kemudian terbukti palsu dan dokter tersebut tidak pernah menetap di Auschwitz. Akan tetapi, masih banyak sejarawan yang menggunakan data ini sebagai sumber mereka.

 

5.000.000 – 5.500.000

Dikutip berdasarkan pernyataan yang disampaikan Rudolf Hess di dalam sidangnya tahun 1945.

 

5.000.000

Dikutip dari surat kabar Perancis Le Monde tertanggal 20 April 1978. Jumlah yang sama juga muncul di surat kabar Jerman Die Welt. Pada tanggal 1 September 1989, Le Monde menurunkan jumlah korban menjadi 1.433.000.

4.500.000

Dikutip dari seorang saksi yang muncul dalam pengadilan Hess pada tahun 1945.

 

4.000.000

Dikutip dari dokumen Uni Soviet tanggal 6 Mei 1945 dan secara resmi dokumen ini telah diakui oleh Pengadilan Nuremberg. Data ini juga dilaporkan oleh New York Times 18 April 1945. Lima puluh tahun kemudian, yaitu pada tanggal 26 Januari 1995, The New York Times dan The Washington Post menurunkan jumlah korban menjadi 1.500.000 sesuai dengan yang tercantum di Auschwitz Museum Official. Pada kenyataannya, tahun 1990, Museum Auschwitz menolak jumlah 4.000.000 korban, tetapi jumlah 1.5 juta tidak pernah diumumkan secara resmi oleh Presiden Polandia, Lech Walesa, sampai lima tahun kemudian ketika para sejarawan Auschwitz mengumumkan penemuan mereka.

 

3.500.000

Dikutip dari kamus bahasa Perancis edisi 1991 dan dari Claude lanzmann pada tahun 1980 di dalam kata pengantar yang ia buat untuk buku Filip Muller yang berjudul Three Years in an Auschwitz Gas Chamber.

 

3.000.000

Rudolf Hess dalam persidangannya dipaksa untuk memberikan pernyataan bahwa inilah jumlah korban yang jatuh di Auschwitz, khususnya pada tanggal 1 Desember 1943. Data ini kemudian dikutip oleh The Issue of Heritage, sebuah koran Yahudi terbesar di California, padahal tahun 1990 Museum Auschwitz telah mengumumkan bahwa jumlah korban hanya 1.100.000 (minimal) dan 1.500.000 (maksimal)

 

2.500.000

Dikutip dari Rudolf Vrba, seorang penulis yang membukukan beberapa peristiwa yang dianggap palsu, yang memberikan testimoni pada tanggal 16 Juli 1981 di hadapan pengadilan Pemerintah Israel dalam pengadilan Adolf Eichmann.

 

2.000.000

Dikutip dari Leon Poliakov (1951) yang menulis In Harvest of Hate, George Wellers yang menulis In the Yellow Star at the Time of Vichy pada tahun 1973, dan Lucy Dawidowicz yang menulis In the Wars Againts the Jews pada tahun 1985.

 

1.600.000

Pada tahun 1989, Yehuda Bauer merevisi tulisannya tahun 1982 yang menyatakan jumlah korban sebanyak 2 juta – 4 juta menjadi 1,6 juta. Ia memublikasikan tulisannya ini melalui Jerussalem Post.

 

1.500.000

Ini adalah jumlah resmi yang dikeluarkan oleh Pemerintah Polandia melalui presidennya, Lech Walesa, pada tahun 1995 berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Museum Auschwitz.

 

1.433.000

Revisi surat kabar Perancis, Le Monde, yang sebelumnya menyatakan 4 – 5 juta.

 

1.250.000

Dikutip dari buku yang ditulis Raul Hilberg, The Destruction of The European Jews, yang terbit pada tahun 1985.

1.100.000 – 1.500.000

Data ini diambil dari buku yang terbit tahun 1984 karangan Yisrael Gutman dan Michael Berenbaum, Anatomy of the Auschwitz Death Camp.Data ini pun dikutip dari artikel yang ditulis oleh Walter Reich, Direktur US Holocaust Memorial Museum, di dalam Washington Post 8 September 1998. Data iniah yang kemudian dianggap secara resmi dan dituliskan di Museum Auschwitz. Data 4 juta yang tertulis di situs sejarah kamp konsentrasi kemudian dihilangkan dan diganti dengan data 1.500.000.

 

1.000.000

Data ini tertulis di dalam buku Jean-Claude Pressac yang terbit pada tahun 1989 dan berjudul Auschwitz: Technique and Operation of the Gas Chambers. Hal yang sangat menarik karena dia menulis buku ini untuk menentang para holocaust deniers – kelompok yang menentang holocaust. Pressac mengatakan bahwa data inilah yang tepat karena sebelumnya ia ditanya tentang berapa jumlah korban yang meninggal di Auschwitz.

 

900.000

Data ini dilaporkan oleh Aufbau, salah satu koran Yahudi di New York, pada tanggal 3 Agustus 1990.

 

800.000 – 900.000

Tertulis di dalam buku karangan Gerald Raitlinger yang berjudul The Final Solution.

 

775.000-800.000

Jean-Claude Pressac merevisi data sebelumnya dan memasukkan data yang baru ini ke bukunya yang berjudul The Crematoria of Auschwitz: The Mass Murder’s Machinery. Data 1 juta yang pernah ia kemukakan ia lupakan.

 

630.000-710.000

Pada tahun 1994, di dalam buku yang sama, tetapi diterbitkan di Perancis, Pressac menurunkan jumlah korban di Auschwitz. Sekali lagi, jumlah ini jelas sangat sedikit bila dibandingkan dengan apa yang telah ia kemukakan pada tahun 1989.

 

135.000 – 140.000

Data ini diambil berdasarkan dokumen yang dikeluarkan oleh the International Tracing Service of the Red Cross. Telah diketahui bahwa mereka memiliki data dokumen registrasi yang lengkap. Ada dugaan bahwa hal ini pun termasuk satu set lengkap dokumen data yang meliputi penghitungan dua kali sehari dari orang yang meninggal. Meskipun Layanan Tracing International Red Cross memiliki catatan tersebut, mereka tidak pernah memublikasikan secara resmi jumlah akurat dari mereka yang meninggal atau bahkan memberikan laporan yang akurat mengenai dokumen apa yang mereka pegang. Namun, total dari catatan-catatan telah diperoleh oleh berbagai pihak yang berkepentingan tentang masalah ini.
Perkiraan dari 135.000 jiwa diperkuat oleh “buku kematian Auschwitz.” Buku kematian itu sendiri adalah catatan kamp masa perang Jerman, yang diamankan oleh Soviet menjelang akhir perang dan tersembunyi di Soviet  hingga kemudian dirilis ke Palang Merah pada tahun 1989.
Buku-buku kematian ini terdiri atas 46 volume yang mendokumentasikan setiap kematian di Auschwitz (sertifikat kematian masing-masing terdiri atas nama lengkap orang yang meninggal, profesi , agama, tempat dan tanggal lahir, tempat tinggal sebelum menetap di Auschwitz, nama orang tua, waktu kematian, dan penyebab kematian sebagaimana ditentukan oleh dokter kamp). Catatan untuk tahun yang paling penting, 1942 dan 1943, hampir lengkap (ada juga beberapa buku untuk tahun 1941, tetapi tidak ada untuk tahun 1944 atau Januari 1945 (ketika Auschwitz dievakuasi)).
Buku-buku kematian Auschwitz berisi sertifikat kematian dari beberapa 69.000 orang, di antaranya sekitar 30.000 yang terdaftar sebagai orang Yahudi. Anda dapat melihat entri berbagai Buku Kematian Auschwitz dengan mengetik keyword berikut.

 

– About the Auschwitz Death Books

-Searching the Auschwitz Death Books

-Menggunakan semua catatan masa perang yang tersedia dari berbagai kamp yang memperkirakan bahwa antara 400.000 dan 500.000 orang tewas dalam sistem kamp konsentrasi Jerman (dari semua penyebab).

Kesimpulan

Holocaust atau orang Yahudi menyebutnya Shoah adalah suatu pembunuhan massal terhadap umat Yahudi saat Perang Dunia II berkecamuk dan dilakukan oleh Nazi Jerman. Sebagian besar peristiwa holocaust terjadi di dalam kamp konsentrasi/ghetto. Kematian-kematian warga Yahudi dapat terjadi akibat beberapa hal, seperti akibat penyiksaan, penembakan, kelaparan, penyakit tifus, dan pemberian gas beracun dengan menggunakan zyklon B – suatu zat kimia yang digunakan sebagai pestisida atau penghambat penyakit tifus agar tidak menyebar.

Dalam perkembangannya, holocaust ini memiliki dikotomi antara holocaust-mania dan holocaust deniers. Penyebutan holocaust deniers sebenarnya kurang tepat karena mereka yang mencoba untuk merevisi sejarah holocaust tidak pernah menyangkal keberadaan holocaust. Justru mereka meyakininya sebagai sebuah tragedi kemanusiaan terbesar sepanjang sejarah manusia. Mereka lebih cocok disebut sebagai revisionis karena pertanyaan mereka tidak terkait apakah holocaust itu ada atau tidak, tetapi terkait jumlah korban yang jatuh, pelaku tindak holocaust, atau informasi mengenai adanya kamar gas di beberapa kamp.

Para revisionis ini hanya menginginkan agar sejarah tidak dimanipulasi untuk kepentingan segelintir pihak. Mereka yakin bahwa holocaust ini dijadikan sebagai sebuah industri yang meraup banyak keuntungan, khususnya dari uang-uang rakyat Amerika – lihatlah bagaimana Holocaust Memorial Museum didirikan di sana bukan di Israel, Padahal orang Amerika tidak punya sangkut paut apa pun dengan Yahudi.

Sejarah holocaust ini begitu dilebih-lebihkan, baik dengan data korban maupun dengan bagaimana umat Yahudi di bawah pemerintahan Nazi menemui kematian dengan cara-cara yang kejam. Hal ini telah kita cermati dari tulisan di atas bagaimana data mengenai jumlah korban di Auschwitz selalu mengalami perubahan. Jika data-data tersebut tidak terlalu signifikan berbeda, mungkin tidak akan menjadi masalah. Namun, apa yang terjadi jika data yang muncul terus berubah dari 9 juta lalu turun menjadi 140.000 saja? Sejarah konvensional telah memvonis Jerman sebagai pelaku utama. Lalu bagaimana dengan Polandia yang lebih dulu mencoba mengenyahkan yahudi, bagaimana dengan Perancis yang tidak mau bekerja sama dengan Jerman untuk memindahkan Yahudi ke Madagaskar dengan cara damai? bukankah itu semua terasa janggal bagi nalar kita?

Mengapa mereka harus melebih-lebihkan informasi seperti ini? Apa motivasi mereka?

Jelas, Hal ini sengaja dilakukan oleh mereka yang terkait industri ini untuk meraih simpati masyarakat. Untuk menyatakan kepada seluruh dunia bahwa umat Yahudi berhak untuk dikasihani dengan seakan-akan mengatakan, “Lihatlah kami wahai warga dunia, lihatlah bagaimana dulu kami disiksa dan dibantai, kini biarkan kami hidup tenang di atas tanah kami sendiri, di Israel.”

papan peringatan di Auschwitz I, (Foto milik Alan Jacobs)

Di dalam kompleks Auschwitz I

7000 penjaga bekerja di Auschwitz, termasuk 700 staf perempuan, Cantik layaknya pramugari. Tidak terbayangkan mereka bisa bekerja di kamp konsentrasi yang “katanya” seram.

Sumber

http://en.wikipedia.org/wiki/Ghetto

http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_Nazi_concentration_camps

http://www.opensubscriber.com/message/mediacare@yahoogroups.com/2857943.html

http://history1900s.about.com/library/holocaust/blchart.htm

Finkelstein, Norman G. 2003. The Holocaust Industry: Reflection on the Exploitation of Jewish Suffering. London: Verso.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

Ruang Penat

Sedikit berbagi cerita tentang bahasa Indonesia dan sekelumit tentang sastra

Rubrik Bahasa

Kumpulan artikel rubrik bahasa Indonesia dari berbagai media massa

Perjalanan Cinta

"Hamemayu Hayuning Bawono: Menata Keindahan Dunia"

pintarberbahasa.wordpress.com/

Cinta Bahasa Indonesia, Cinta Budaya Kita

Koiman

Menindas Sang Penindas

keshamotor

Just another WordPress.com site

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d blogger menyukai ini: